Mazmur 1: Jalan Orang Benar dan Jalan Orang Fasik

Klik:

Psalms 1


Psa 1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

Psa 1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Psa 1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Psa 1:4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

Psa 1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;

Psa 1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.


Tafsiran Wycliffe


JILID I. Mazmur 1-41.

Kitab pertama di dalam pembagian kitab ini menjadi lima tampaknya pernah merupakan kumpulan mazmur Daud tersendiri.

Nama untuk Tuhan, dalam bahasa Ibrani Yahweh dipakai 272 kali, sedangkan Elohim hanya dipakai 15 kali saja.

Setiap mazmur beragam isinya, namun ajaran moralnya sederhana dan langsung.

Di sepanjang bagian ini, tampak jelas suatu iman yang positif kepada keadilan Allah.

Mazmur 1 merupakan pengantar kepada seluruh Kitab Mazmur, sedangkan Mazmur 2 merupakan pengantar untuk kumpulan Kitab I.

Kenyataan, bahwa sejumlah naskah mencantumkan Mazmur 3 sebagai mazmur pertama menjadikan sifat pengantar dari Mazmur 1 dan 2 makin jelas.

Selanjutnya ada kemungkinan, bahwa Mazmur 1 dan 2 pada mulanya merupakan satu mazmur saja, yaitu mazmur yang diawali dan diakhiri dengan "Berbahagialah".

Semua mazmur kecuali 1, 2, 10 dan 33 terkait dengan Daud di dalam catatan judulnya.

Mazmur 1. Dua Jalan Hidup.

Mazmur ini mengemukakan dengan sangat kontras dua ekstrem - jalan hidup yang sungguh-sungguh benar dan jalan hidup yang pada dasarnya fasik.

Kontras itu memperkenalkan secara didaktik dua golongan manusia yang akan dilukiskan di sepanjang Kitab Mazmur.

Pemazmur melanjutkan antitesis ini dengan menunjukkan nasib saat ini dan kelak dari masing-masing kelompok.

1-3. Jalan Orang Saleh.

Berbahagialah orang. Kitab Mazmur diawali dengan sebuah seruan yang kuat: Betapa bahagianya orang yang mengikuti rencana Allah.

Kata kerja berjalan, berdiri, dan duduk melukiskan langkah-langkah khas dari orang fasik yang harus dihindari oleh orang benar; menerima prinsip-prinsip orang fasik, ikut terlibat dalam praktik-praktik orang berdosa, dan akhirnya bergabung dengan orang-orang yang suka mencemooh secara terbuka.

Perhatikan ungkapan paralel di antara ketiga kata kerja tersebut serta anak-anak kalimat yang memberikan batasan.

Sesudah itu perhatian dialihkan dari penolakan yang negatif kepada kesenangan yang positif.

Orang semacam itu senantiasa merenungkan, atau menggumamkan ajaran Allah.

Sebagai hasilnya, dia menjadi makin seperti "pohon yang ditanam" dengan akar-akar di dalam realitas abadi.

Ia pasti terus memiliki vitalitas dan dijamin akan berhasil pada akhirnya sebab ia telah mengandalkan Allah secara kokoh.

4-6. Jalan Orang Fasik.

Bukan demikian orang fasik. Kini terjadi sebuah perubahan mendadak dengan pemakaian istilah bukan demikian.

Kontras yang tajam menjadi makin kentara melalui berkali-kali pemakaian istilah untuk orang fasik ini yang merupakan antitesis dari istilah orang benar.

Berbeda dengan pohon yang tertanam dengan kokoh, orang fasik hilang ditiup angin.

Yang digambarkan adalah tempat pengirikan di sebuah bukit di mana angin dapat memisahkan sekam dari gandum.

Dalam bentuk kalimat paralel, kedua golongan (orang fasik dan orang berdosa) tidak mempunyai bagian dalam kumpulan orang benar.

Sementara Allah mengenal atau memperhatikan jalan orang benar, orang fasik hanya ikut arus saja hingga akhirnya binasa.


Garis Besar Mazmur


Susunan yang ada sekarang dari Kitab Mazmur jelas menunjukkan garis besarnya sendiri:

Jilid I. Mazmur 1-41.
Jilid II. Mazmur 42-72.
Jilid III. Mazmur 73-89.
Jilid IV. Mazmur 90-106.
Jilid V. Mazmur 107-150.

Pendahuluan Mazmur


Sifat.

Di antara kitab-kitab kuno, tidak ada kitab yang demikian menarik hati manusia seperti Kitab Mazmur ini.

Di dalam Alkitab, tidak ada kitab lain yang berisi pengalaman religius yang demikian beragam seperti di dalam kitab ini.

Di sini, iman bangsa Israel terungkap dengan jelas, sebab Israel mengetahui kebenaran penyataan ilahi dari pengalaman.

Di dalam berbagai Mazmur, pemahaman Israel tentang masa lalu dipadukan dengan penyembahan, sehingga menjadi abadi.

Pengalaman pribadi di sini dikaitkan dengan kehidupan bersama bangsa Israel.

Oleh karena itu, di dalam Kitab Mazmur terdapat unsur universal, yang hanya bisa muncul dari ekspresi gabungan berbagai pengalaman rohani manusia dalam banyak periode sejarah, dan dalam berbagai situasi kehidupan.

Setiap orang didorong oleh keinginannya untuk memberikan tanggapan kepada Allah yang hidup.

Mereka semua dipersatukan oleh keinginan hati mereka untuk menanggapi dengan memakai perasaan terdalam mereka.

Setiap jenis pengalaman religius tercermin di dalam ujian hidup sehari-hari, dan diproyeksikan ke dalam hidup orang percaya masa kini.

Dengan demikian, di dalam setiap Mazmur terdapat suatu keabadian yang menjadikan kitab ini senantiasa dapat dikenakan kepada setiap zaman di dalam sejarah.

Istilah "Mazmur" berasal dari LXX yang memakai nama Psalmoi, untuk kumpulan kidung ini.

Salah satu naskah Alkitab yang utama, Codex Alexandrinus, menambahkan sebutan "Pemazmur" dengan memakai istilah Yunani Psalterion.

Sekalipun demikian, Alkitab berbahasa Ibrani menyebutkan kitab ini dengan nama Tehillîm, yang artinya "Puji-pujian".

Di dalam sastra para rabi, istilah ini kemudian diambil alih menjadi Séper Tehillîm yang artinya "Kitab Puji-pujian".

Akar kata dari istilah Ibrani dan Yunani itu berarti memainkan alat musik.

Seiring dengan waktu, istilah tersebut menjadi berarti bernyanyi dengan iringan alat musik, sebuah ciri dalam ibadah Israel yang dipopulerkan dengan menyanyikan lagu-lagu kaum Lewi.

Banyak Mazmur memberikan bukti, bahwa Mazmur tersebut dipakai oleh paduan suara dan para peserta ibadah sebagai lagu pujian, sedangkan yang lain tidak demikian.

Akan tetapi, seluruh kumpulan Mazmur ini mengungkapkan kerinduan yang terdalam, dan penuh semangat dari Israel secara keseluruhan untuk beribadah di hadapan Allah.

Judul dan kepenulisan.

Salah satu hal pertama yang tampak ketika membaca kitab ini ialah, bahwa setiap Mazmur mempunyai judul sendiri.

Bagaimana judul-judul itu bisa ditafsirkan dengan tepat merupakan persoalan paling sulit di dalam kitab ini.

Kadang-kadang, penulisnya yang ditekankan pada judulnya, sedang kali yang lain hubungan yang ditekankan.

Alasan penggubahan sebuah Mazmur kadang-kadang juga dikemukakan.

Judul-judul tertentu mengacu kepada pemakaian Mazmur tersebut di dalam ibadah umum.

Judul-judul yang lain menunjukkan hasil yang diinginkan dari permainan alat musik tertentu.

Yang lain lagi melukiskan sifat dasar dari Mazmur tersebut, seperti:
(1) sebuah kidung untuk dinyanyikan dengan bantuan alat musik (mizmor),
(2) sebuah nyanyian (shir),
(3) lagu kebangsaan (maskil) atau
(4) sebuah ratapan (mittam).

Semua Mazmur, kecuali tiga puluh empat di antaranya, memiliki semacam judul yang ditulis di atas Mazmur tersebut.

Ketiga puluh empat Mazmur pertama judul disebut sebagai "anak-anak yatim piatu" Yahudi.

Di antara Mazmur-mazmur yang berjudul, tujuh puluh tiga memakai nama ie Dawid yang pada umumnya diterjemahkan sebagai Mazmur Daud.

Sekalipun demikian, istilah tersebut mungkin juga berarti "milik Daud", "berkaitan dengan Daud", "tentang Daud", "untuk Daud", "dipersembahkan kepada Daud", "dengan gaya Daud", atau "oleh Daud".

Judul-judul tersebut tidak selalu menunjukkan penulis Mazmur itu, entah yang mengacu kepada Daud atau kepada yang lainnya.

LXX menambahkan nama Daud untuk lima belas Mazmur yang tidak disebut demikian di dalam naskah Ibrani aslinya.

Di samping itu ada tujuh puluh tiga Mazmur yang menyebut Daud (delapan puluh delapan di dalam LXX), dua belas dikaitkan dengan Asaf, dua belas dengan bani Korah, dua dengan Salomo, satu dengan Etan dan satu dengan Musa.

Sekalipun judul-judul tersebut tidak termasuk di dalam naskah asli, judul-judul itu didasarkan pada tradisi yang cukup kuno.

Suatu perbandingan antara Naskah Masoret dengan LXX menunjukkan, bahwa judul-judul tersebut sudah ada sebelum terjemahan LXX, sebab sejumlah petunjuk tentang musik sudah tidak bisa dimengerti oleh para penerjemah LXX dan judul-judul tersebut tidak menjadi baku.

Sekalipun judul-judul di atas itu bukan merupakan bagian dari naskah asli, judul-judul itu layak untuk dipertimbangkan, sebab menunjukkan usaha pertama manusia untuk menulis sebuah pengantar untuk Kitab Mazmur.

Struktur.

Sekalipun Kitab Mazmur tampaknya tidak memiliki perencanaan, itu tidak berarti, bahwa mazmur-mazmur yang tercantum di dalamnya tidak disusun secara pasti.

Sekalipun pokok pembahasannya tidak teratur, sistem pengaturan yang diikutinya jauh lebih jelas.

Kitab ini dibagi menjadi lima bagian yang terdiri atas kumpulan sejumlah mazmur.

Menurut Midrash on the Psalms, sebuah tafsir Mazmur Yahudi kuno, pembagian menjadi lima jilid dibuat sesuai dengan kelima Kitab Taurat.

Jadi, mungkin para penyusun kitab ini sejak semula memiliki maksud untuk memparalelkan lima tanggapan umat ini dengan lima Panggilan Allah.

Bukti berikutnya tentang adanya sebuah rencana, adalah kehadiran sebuah kidung pujian pada akhir dari masing-masing kelima jilid itu.

Mazmur 41, 72, 89, 106 dan 150 berisi kidung pujian untuk setiap jilid, sedangkan pasal 1 merupakan pengantar umum kepada mazmur lainnya. Mazmur 2, 42, 73, 90 dan 107 merupakan pengantar kepada masing-masing jilid.

Pengaturan yang cermat ini merupakan bukti, bahwa edisi final dari kitab ini dirancang untuk sesuai dengan skema ibadah Yahudi.

Terdapat hubungan yang menakjubkan di antara empat Kitab Taurat pertama dengan empat jilid pertama Kitab Mazmur.

Karena seorang penganut Yudaisme Palestina menyelesaikan pembacaan Taurat setiap tiga tahun, sangat mungkin, bahwa penggunaan Mazmur dijadwalkan untuk sesuai dengan hal tersebut.

Menurut tradisi kuno, tampaknya delapan bagian dari Taurat diperuntukkan bagi hari-hari Sabat sepanjang dua bulan bersamaan dengan bagian-bagian yang cocok dari kitab para nabi.

N. H. Snaith (Hymns of the Temple, hlm. 18) menunjukkan, bahwa serangkaian mazmur mungkin dipakai dengan cara serupa itu.

Menurut perhitungannya, pembacaan Kitab Keluaran diawali pada hari Sabat ke empat puluh dua, pembacaan Kitab Imamat selesai dibaca pada hari Sabat ke tujuh puluh tiga, Kitab Bilangan pada hari Sabat ke sembilan puluh, dan Kitab Ulangan pada hari Sabat yang ke seratus tujuh belas.

Hari-hari Sabat ini sesuai persis dengan setiap pasal pertama dalam setiap jilid Kitab Mazmur.

Tidak ada mazmur yang bisa lebih cocok daripada Mazmur 1 untuk mempersiapkan tiga tahun "merenungkan Taurat" yang akan datang.

Mazmur 23, misalnya, akan mendampingi pembacaan kisah Yakub di Betel.

Pengumpulan dan Pertumbuhannya.

Pengaturan mazmur yang ada sekarang ini merupakan hasil dari sebuah proses pertumbuhan.

Jauh sebelum kitab ini terbentuk seperti sekarang, sudah ada kumpulan-kumpulan mazmur yang lebih kecil.

Secara bertahap, kumpulan-kumpulan yang lebih kecil ini dijadikan satu.

Di dalam pengelompokan menjadi lima jilid sekarang, ikatan kelompok yang lebih kecil masih kelihatan.

Selain kumpulan mazmur Daud, ada sejumlah mazmur yang dikaitkan dengan bani Korah dan Asaf.

Pada Mazmur 72:20 dinyatakan, bahwa "Sekianlah doa-doa Daud bin Isai", sekalipun masih ada mazmur-mazmur Daud lainnya sesudah itu.

Kumpulan-kumpulan lebih kecil lainnya termasuk Mazmur Ziarah dan Mazmur Haleluya.

Berbagai bagian tertentu juga menunjukkan kecenderungan yang jelas untuk memakai kata Yahweh atau Elohim, yang menunjukkan keberadaan kata-kata itu sejak semula pada kumpulan-kumpulan khusus.

Kumpulan-kumpulan berikut mungkin sekali sudah beredar secara terpisah sebelum kemudian dipersatukan:

Mazmur 3-41. Sebuah kumpulan mazmur Daud dengan kidung pujian dan kecenderungan untuk memakai nama Yahweh (272 kali pemakaian nama ini dibandingkan dengan 15 kali pemakaian nama Elohim).

Mazmur 51-72. Sebuah kumpulan mazmur Daud dengan kidung pujian dan kecenderungan untuk memakai nama Elohim (208 kali pemakaian nama ini dibandingkan dengan 48 kali pemakaian nama Yahweh).

Mazmur 50, 73-83. Kumpulan mazmur perserikatan bani Lewi yang dikaitkan dengan Asaf.

Mazmur 42-49. Kumpulan mazmur serikat bani Lewi yang dikaitkan dengan bani Korah.

Mazmur 90-99. Mazmur-mazmur Sabat yang dikaitkan secara erat dengan ibadah Sabat.

Mazmur 113-118. Mazmur-mazmur Halel dari Mesir, dikaitkan dengan ibadah pada Perayaan Paskah (bdg. Mzm. 136).

Mazmur 120-134. Nyanyian Ziarah yang mungkin dikidungkan oleh para peziarah ketika berziarah menuju ke Bait Allah.

Mazmur 146-150. Mazmur haleluya yang dinyanyikan pada perayaan-perayaan.

T. H. Robinson (The Poetry of the Old Testament) dan lain-lain menunjukkan, bahwa sebelum menjadi lima kelompok, kitab ini terdiri dari tiga kelompok.

Ketiga kelompok ini, 1-41-42-89-90-150, mungkin telah dibagi lagi menjadi bentuk yang sekarang untuk disesuaikan dengan pembagian Kitab Taurat.

Terlepas dari apakah teori ini bisa dibuktikan, atau tidak, pemahaman yang benar tentang sifat susunan Kitab Mazmur ini penting.

Melalui proses bertahap berupa pengumpulan, penyusunan kembali dan perbaikan, Allah memelihara harta ini, yaitu tanggapan Israel atas penyataan diri-Nya.

Penanggalan.

Sistem penanggalan yang tepat untuk Kitab Mazmur tidak mungkin dibuat.

Orang-orang yang bertanggung jawab atas edisi terakhir Kitab Mazmur dan juga para pengumpul sebelumnya, berusaha untuk menyediakan sebuah kitab nyanyian bagi angkatan mereka sendiri.

Pada saat-saat mengalami tekanan dan kesulitan, mereka berusaha menghidupkan kembali semangat masa lalu untuk mencukupi kebutuhan zaman mereka.

Proses perbaikan dan penyesuaian membuat banyak mazmur kelihatan lebih baru daripada bentuk aslinya.

N. H. Snaith (Twentieth Century Bible Commentary, hlm. 285) mengatakan: "Sedikit Mazmur kalau tidak ditulis sebelum masa pembuangan tentu seluruhnya ditulis sesudah masa pembuangan. Sejumlah mazmur mungkin mengandung unsur-unsur yang berbeda waktu lebih dari seribu tahun".

Sejumlah pakar mengikuti pendapat Duhm dan mengatakan, bahwa sebagian besar mazmur digubah pada zaman Makabe.

Sekalipun demikian, arus masa kini di kalangan pakar seperti Gunkel, Snaith, Patterson, Oesterley dan lain-lain cenderung menyebutkan tanggal yang lebih dini.

Frasa "Buku Doa dan Puji-pujian Bait Allah Yang Kedua", bisa tetap berlaku untuk seluruh kumpulan, sebab penyuntingan terakhir dilaksanakan sesudah masa pembuangan.

Akan tetapi, banyak Mazmur berasal dari zaman sebelum pembuangan, dengan sejumlah unsur yang asal-usulnya adalah pada masa pra-Daud.

Pengenalan akan bahan yang dini dan yang kemudian ini, menjadikan Kitab Mazmur malah lebih berharga sebagai catatan tentang seluruh sejarah tanggapan Israel kepada Allah selaku Umat Pilihan-Nya.

Sekalipun penting untuk mengetahui latar belakang sejarah dan tanggal yang tepat dari suatu nas waktu menafsir, hal itu tidak terlalu merupakan keharusan ketika menafsirkan Mazmur dibandingkan dengan nas Perjanjian Lama lainnya.

Karena universalitas kebenaran yang terdapat di dalamnya, kitab ini tidak terlalu perlu memperhatikan latar belakang sejarah itu.

Pesan-pesannya yang tidak tergantung waktu menjadikannya bisa digunakan pada zaman pra-pembuangan, pasca-pembuangan dan pada zaman kita.

Sekalipun demikian, keabadian ini jangan membuat kita tidak berusaha untuk mengetahui latar belakang ketika mazmur tertentu digubah sejauh hal itu dimungkinkan.

Gaya penulisan, sebutan-sebutan pada peristiwa sejarah tertentu, bahasa yang dipakai, pemikiran-pemikiran teologis yang terungkap, dan bukti-bukti di dalam nas lainnya tetap harus dipelajari, sebab setiap nas menjadi makin hidup, jika latar belakang itu dipahami secara benar.

Sekalipun keadaan makin hidup itu sangat diperlukan, sikap dogmatis dalam menyebutkan penulis, tanggal, serta situasi waktu penulisan tidak pada tempatnya, sebab setiap pesan kitab ini bersifat abadi.

Harus diingat, bahwa sejarah memiliki cara untuk berulang berkali-kali.

Bentuk Syair.

Orang Ibrani telah mewariskan kepada dunia sebuah bentuk pengungkapan syair yang sederhana dan kekanak-kanakan.

Ungkapan berbentuk syair itu lebih berasal dari hati ketimbang dari keinginan untuk mengungkapkannya dengan keindahan seni.

Karena bahasa Ibrani adalah bahasa bergambar, setiap kata yang dipakai itu jelas dan gamblang.

Akar-akar kata kerjanya menggambarkan tindakan yang kelihatan, sedangkan pemakaiannya memberikan ruang untuk memakai imajinasi yang kuat.

Di dalam bahasa ini terdapat ungkapan perasaan yang sangat kuat, yang cocok untuk menunjukkan kerinduan religius yang membara.

Sekalipun puisi Ibrani tidak memiliki sajak dan lemah sistem metrisnya, puisi Ibrani memiliki ciri-ciri penggantinya.

Sebaliknya dari dasar-dasar utama sajak Inggris ini, orang Ibrani menggunakan dua ciri khusus yang utama - penekanan aksen (irama) dan paralelisme.

Menurut F. C. Eiselen (The Psalms and Other Sacred Writings), irama adalah "pengulangan harmonis dari hubungan suara tertentu".

Pola aksen yang terdiri dari dua, tiga atau empat hitungan irama memungkinkan dibuatnya pengulangan harmonis ini.

Sejumlah suku kata yang tanpa tekanan di antara setiap hitungan irama disusun secara bergantian di antara suku kata yang panjang, dan suku kata yang pendek.

Bentuk pengaturan semacam ini tergantung pada irama di dalam setiap anak kalimat, dan keseimbangan irama di antara anak-anak kalimat itu.

Hasilnya adalah suara yang naik dan turun secara menyenangkan, sehingga sanggup mengungkapkan semangat yang hidup, kepastian yang tenang, keceriaan, ratapan, atau ungkapan emosional lainnya.

Ciri khusus utama yang kedua di dalam syair Ibrani, ialah keseimbangan di antara bentuk dan makna yang dinamakan paralelisme.

Sang penyair mengemukakan sebuah pemikiran; kemudian pemikiran itu diperkuat lagi dengan pengulangan, variasi atau kontras.

Ada tiga bentuk utama paralelisme yang dapat dijumpai di seluruh Kitab Mazmur:

1. Sinonim. Baris kedua mengulangi baris pertama dengan kata-kata yang sedikit berbeda (bdg. Mzm. 1:2).

2. Antitetis. Baris kedua merupakan kontras yang tajam dari kalimat pertama (bdg. Mzm. 1:6).

3. Sintetis. Kalimat kedua melengkapi kalimat pertama dengan menambah pemikiran semula (bdg. Mzm. 7:2).


Tiga bentuk yang kurang utama membantu menambah kekayaan dan keragaman dari syair Ibrani:

1. Introver. Kalimat kedua paralel dengan kalimat ketiga dan kalimat pertama paralel dengan kalimat keempat (bdg. Mzm. 30:9-11; 137:5, 6).

2. Klimaktis. Kalimat kedua melengkapi kalimat pertama dengan membawa pemikirannya kepada klimaks (bdg. Mzm. 29:1, 2).

3. Emblematis. Kalimat kedua melanjutkan pemikiran kalimat pertama dengan mengangkatnya ke alam yang lebih tinggi, atau dengan memakai sebuah simile (bdg. Mzm. 1:4).

Ada faktor-faktor lain yang menjelaskan keefektifan paralelisme.

Inti masalahnya ialah harapan dan kepuasan pembacanya.

Kalimat pertama akan selalu menimbulkan suatu rasa berharap, sedangkan kalimat-kalimat berikutnya akan memuaskan harapan tersebut.

Penyair bisa membuat variasi dengan mengubah tingkat pengharapan, atau cara memuaskan pengharapan itu dengan memakai kontras untuk menunjukkan apa yang tidak diharapkan.

Paralelisme yang dipergunakan ini kadang-kadang lengkap, kadang-kadang tidak lengkap dengan satu unsur yang tidak ada; dan pada saat-saat tertentu ditambahkan sebuah unsur pelengkap untuk memberikan rasa puas yang lebih baik.

Bukan hanya paralelisme, namun juga irama berpola menghasilkan rasa penantian pemuasan ini.

G. B. Gray (The Forms of Hebrew Poetry, 1915) telah memberi nama kepada dua jenis irama dasar ini. "Irama yang menyeimbangkan" menghasilkan kepuasan tertentu, sebab jumlah penekanan aksennya sama (2:2 atau 3:4).

"Irama yang menggema" menghasilkan perasaan berbeda dengan memberikan tekanan yang lebih sedikit pada kalimat kedua dibandingkan dengan kalimat pertama (3:3).

Yang paling sering dipakai dari bentuk yang kedua adalah irama Quinah, yang dipakai dalam ratapan dan nyanyian penguburan.

Di samping paralelisme dan irama, dua unsur lain mempengaruhi syair Ibrani.

Ini bukan karakteristik khusus, sebab ini terdapat di dalam semua syair.

Yang pertama adalah sifat emosional yang menghasilkan suatu ekspresi yang memuncak.

Kata-kata atau frasa khusus yang penuh kuasa dapat menghasilkan hal ini.

Pemakaian suara tekak yang banyak dapat menampilkan suasana keras.

Bunyi mendesis yang tajam dapat mengungkapkan kemenangan, atau kesedihan atas sebuah kekalahan.

Kata yang meniru suara dapat dengan mudah menunjukkan pesannya.

Unsur kedua adalah nilai membantu ingatan dari sebuah syair yang membantu pembaca mengingatnya.

Sebagai ganti pemakaian sajak, pemazmur kadang-kadang memanfaatkan pengaturan akrostik.

Setiap baris atau sejumlah baris akan diawali dengan huruf-huruf dalam abjad Ibrani.

Mazmur 119 merupakan contoh yang baik sekali, karena setiap baris di dalam kelompok delapan baris diawali dengan huruf yang sama.

Kedua puluh dua huruf dalam abjad Ibrani dipakai dalam kelompok-kelompok yang berurutan.

Cara semacam itu membuat mazmur tersebut lebih mudah dihafalkan.

Sesungguhnya, hanya delapan atau sembilan mazmur yang disusun demikian secara keseluruhan.

Masing-masing mazmur ini bersifat sebagai amsal, dan akan mengalami suatu keterpisahan pemikiran jika saja pengaturan menurut abjad ini tidak dipakai.

Berdasarkan gaya pokoknya, syair Ibrani sangat berbeda dengan syair modem.

Sekalipun demikian, pola syair Ibrani memiliki kemiripan yang erat dengan pola syair Timur Dekat.

Terdapat sejumlah kesamaan dalam gaya antara syair-syair di Israel dengan yang di Mesir dan Mesopotamia.

Akan tetapi, kesamaan yang paling mencolok tampak jelas, jika syair Ibrani dibandingkan dengan syair-syair Ugarit.

Syair Ugarit pada dasarnya merupakan jenis Kanaan-Siria.

Kanaan dan Siria berhubungan dekat dengan Israel di sepanjang sejarah pra-pembuangan.

Kemiripan-kemiripan utamanya adalah dalam hal metafora, frasa, irama dan paralelisme - semua berkenaan dengan gaya penulisan dan pemakaian frasa.

Perbedaan secara religius dan teologis jauh melebihi semua kesamaan ini.

Klasifikasi.

Suatu perbandingan sekilas dari syair-syair di dalam Mazmur menunjukkan, bahwa syair-syair itu tidak dikelompokkan menurut pokok bahasannya.

Pokok-pokok tersebut, yang dibahas atau disinggung, meliputi pengalaman manusia.

Sekalipun berbagai topik itu terlalu banyak untuk didaftarkan, lima pokok utama dapat dikenali:

1. Kesadaran akan kehadiran Allah.

2. Pengakuan akan perlunya mengucap syukur.

3. Persekutuan pribadi dengan Allah.

4. Mengingat peranan Allah dalam sejarah.

5. Perasaan dibebaskan dari musuh.

Telah ada banyak usaha untuk mengklasifikasi mazmur-mazmur menurut sebuah patokan yang sudah dipertimbangkan sebelumnya.

Mowinckel dan lain-lain memusatkan klasifikasi mereka pada isi dengan mengembangkan berbagai sub-divisi berdasarkan topik secara rinci.

Yang lain berusaha mengungkapkan suasana hati dari penulis setiap mazmur.

Kalangan yang lain lagi telah menggunakan berbagai jenis mazmur sebagai kriteria klasifikasi.

Ini berawal hanya dengan pembagian menjadi tiga yaitu nyanyian pujian, doa dan kidung iman.

Baru-baru ini Gunkel telah melaksanakan pekerjaan yang sangat berharga dengan mengidentifikasi lebih jauh jenis-jenis, atau kategori ini.

Dasar pikiran pokoknya ialah, bahwa mazmur pada mulanya merupakan nyanyian pemujaan yang dipakai ketika Israel beribadah.

Oleh karena itu, Gunkel menggolongkan setiap mazmur menurut "rumusan yang berulang secara tetap" dari setiap jenis tertentu.

Gunkel menemukan lima jenis utama sebagai berikut:

1. Nyanyian Pujian.

2. Ratapan Nasional.

3. Mazmur Kerajaan (termasuk Mazmur Mesianis).

4. Ratapan Individu.

5. Ucapan Syukur Individu.


Kepada jenis-jenis tersebut Gunkel menambahkan sejumlah jenis minor yang masing-masing jenisnya hanya diwakili oleh beberapa mazmur saja.

6. Nyanyian Ziarah.

7. Ucapan Syukur Bangsa.

8. Syair Hikmat.

9. Liturgi Taurat.

10. Jenis-jenis Campuran.


Jenis-jenis ini merupakan skema yang terakhir dan paling mutakhir dari Gunkel (bdg. N. H. Snaith dalam Twentieth Century Bible Commentary, hlm. 235 dst.).

Sebelumnya, Gunkel telah memasukkan juga jenis-jenis minor lainnya seperti "Berkat dan Kutuk" serta "Mazmur Nubuat" (bdg. John Patterson, The Praises of Israel, hlm. 32). Kepada jenis-jenis ini masih dapat ditambahkan Mazmur-mazmur Mesianis.

Sekalipun usaha untuk merumuskan sebuah sistem klasifikasi itu sangat menarik, terdapat suatu keadaan tidak menentu sekitar Kitab Mazmur yang tidak memungkinkan klasifikasi secara mutlak.

Keadaan tidak menentu ini disebabkan oleh sifat abadi dan universal dari kumpulan ini.

Sebetulnya, setiap metode klasifikasi memberikan pandangan yang berbeda tentang Kitab Mazmur, sehingga memungkinkan seseorang memahami banyak seginya yang ada.

Nilai Abadi.

Kitab Mazmur mula-mula adalah sebuah kesaksian yang hidup tentang iman Israel.

Setiap mazmur merupakan bukti tentang pemikiran dan perasaan dari orang Ibrani yang tidak terhitung jumlahnya.

Semua mazmur-mazmur itu menggemakan aspirasi dan harapan dari orang laki-laki dan perempuan di setiap era sejarah Israel.

Di dalamnya tercermin kesulitan dan pergumulan umat Allah.

Mazmur-mazmur itu menunjukkan peziarahan dari keraguan menuju kepastian dalam abad-abad kritis dari pimpinan Allah ini.

Setiap mazmur itu senantiasa menunjuk kepada kemenangan atas keputusasaan oleh iman kepada Allah yang hidup.

Sejarah Israel jelas akan kurang tanpa bukti-bukti mengenai tanggapan iman kepada penyataan Allah ini.


Kedua, Kitab Mazmur merupakan suatu latar belakang yang penting bagi pelayanan Yesus.

Dia mempelajari Mazmur di dalam lingkungan keluarga Yahudi-Nya.

Ketika dibaptiskan, misiNya diutarakan dengan memakai kata-kata dari salah satu mazmur.

Di kayu salib, sebuah mazmur diingat oleh-Nya pada saat-saat terakhir-Nya di situ.

Mazmur lebih banyak dikutip di dalam Perjanjian Baru dibandingkan dengan kitab lain apa pun dari Perjanjian Lama.

Terdapat sekitar seratus acuan, atau petunjuk langsung dari Kitab Mazmur di dalam Perjanjian Baru.

Frasa-frasa dan ayat-ayat dibawa untuk menjelaskan, sifat dan pesan Yesus selaku Mesias.


Ketiga, Kitab Mazmur terbukti merupakan sumber yang sangat diperlukan untuk bahan ibadah.

Orang Kristen di seluruh dunia telah terbantu untuk menghampiri Allah secara pribadi di dalam penyembahan.

Mazmur 51 mengutarakan pikiran dari orang berdosa yang bertobat.

Mazmur 32 menunjukkan betapa sukacita yang bisa dialami oleh seorang yang memperoleh pengampunan dosa.

Mazmur 23 mengungkapkan rasa percaya yang biasa dimiliki oleh banyak anak Tuhan.

Mazmur 103 menyampaikan pujian kepada Allah yang seharusnya dilakukan semua orang percaya.

Mazmur-mazmur yang lain memuaskan kebutuhan ibadah yang mendasar, memperkaya pengalaman pribadi setiap orang yang mencari.


Akhirnya, Kitab Mazmur telah menjadi kitab puji-pujian sepanjang zaman.

Tidak ada kitab pujian lain yang telah dipakai demikian lama oleh demikian banyak orang.

Kitab ini dibaca, dikidungkan atau dinyanyikan setiap hari sepanjang tahun.

Samuel Terrien mengatakan tentang hal tersebut: "Tidak ada kitab pujian dan doa lain yang sudah dipakai selama waktu demikian lama dan oleh demikian banyak orang laki-laki dan perempuan yang sangat beragam" (The Psalms and Their Meaning Today, hlm. vii).

Pada zaman informal, Kitab Mazmur memberikan suatu bahasa yang sangat diperlukan untuk penyembahan.

Melalui ciptaan Luther, "A Mighty Fortress Is Our God," ciptaan Isaac Watts, "Jesus Shall Reign," dan juga, "O God, Our Help in Ages Past," pesan Kitab Mazmur berkumandang di seluruh dunia.

Sumber bahan: Software e-sword dan Alkitab.sabda.org.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel