Habakuk 2:1-5: Orang Yang Benar Akan Hidup Oleh Karena Percayanya

Klik:

Habakuk 2:1-5


Hab 2:1 Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.

Hab 2:2 Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya.

Hab 2:3 Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.

Hab 2:4 Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.

Hab 2:5 Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya."


Tafsiran Wycliffe


2:1. Tempat pengintaian ... di menara. Beberapa penafsir memahami artinya sebagai suatu tempat yang tinggi atau menara sungguhan, dengan menyebutkan contoh dari Musa (Kel. 33:21), atau Bileam (Bil. 22:41), dan dari Elia di Sinai (Gunung Horeb, I Raj. 19:8 dst.).

Tidak satu pun dari contoh-contoh ini yang benar-benar dapat disamakan dengan yang disebut oleh Habakuk, yang barangkali hanya memakai bahasa kiasan.

Tentu saja dia sudah mempersiapkan diri melalui meditasi dan doa untuk menerima jawaban Ilahi.

Yeremia menanti selama sepuluh hari untuk mendapat jawaban atas permintaannya (Yer. 42:7).

Barangkali beberapa selang waktu berlalu antara peringatan pada pasal 1 dengan jawaban yang diterima.

Habakuk hanya mencatat tekadnya untuk menantikan sebuah jawaban; dia tidak mengatakan kepada kita kapan jawaban itu tiba.

Jawaban Kedua Tuhan: Tujuannya Pasti, dan Iman Akan Mendapat Upah (2:2-4).

Ketiga ayat ini berisi apa yang mungkin merupakan bagian yang paling sulit dari nubuat tersebut, baik dari sudut penerjemahan maupun dari penafsirannya.

2. Tuliskanlah penglihatan itu. Entah sang nabi benar-benar menulis penglihatan itu pada loh-loh batu untuk dibaca umum atau tidak, telah diperdebatkan selama ini, tetapi disetujui oleh semua pihak, bahwa sang nabi disuruh mencatat penglihatan itu.

Tujuan pencatatan itu ada dua: supaya orang yang membacanya bergegas bertindak; penglihatan itu adalah untuk waktu yang telah ditentukan dan harus dipelihara supaya kebenarannya dapat dibuktikan.

Pada loh-loh (ASV). Bahan yang berbeda-beda dipakai untuk membuat catatan, karena bangsa Yahudi telah berhubungan dengan semua kebudayaan Timur Dekat.

Yesaya dan Yeremia sama-sama menggunakan gulungan-gulungan kitab, namun Yesaya juga disuruh untuk memakai loh (Yes. 30:8).

Masuk akal untuk berpendapat, bahwa Habakuk membuat catatan mengenai penglihatannya itu pada loh dari tanah liat, yang ia tunjukkan agar menjadi perhatian banyak orang.

Supaya orang sambil lalu (AV: that he may run). Perkara ini harus dibuat sedemikian jelas, supaya siapa pun yang membacanya dapat bergegas dan memberitakannya.

Dalam Daniel 12:4, juga, kata-kata "banyak orang akan menyelidikinya" (AV: many shall run to and fro), tampaknya menunjuk kepada suatu publikasi informasi, karena sesudah itu ditambahkan, bahwa pengetahuan akan bertambah.

3. Menanti saatnya ... menuju kesudahannya (AV: For an appointed time ... at the end). Penggenapan dari penglihatan tersebut akan terjadi pada waktu Allah sendiri.

Karena dua kata yang sama (dalam versi bhs. Inggrisnya) dipakai dalam Daniel 8:19, beberapa orang menyimpulkan, bahwa yang dimaksudkan itu adalah akhir zaman, atau hari-hari yang terakhir.

Di sini, kata-kata itu mengacu pada rancangan Allah mengenai orang Kasdim.

Meskipun demikian, kita bisa memahami, bahwa penglihatan tersebut berhubungan dengan kehancuran dari kekuatan dunia yang penuh dosa, di mana Babel merupakan perwujudan yang nyata, dan bahwa baru pada zaman Mesiaslah penggenapan final dari janji itu akan terlaksana.

Ia bersegera ... dengan tidak menipu (ASV). Berbagai maksud Allah segera akan terlaksana, walaupun menurut perkiraan manusia mungkin kelihatan ada penundaan-penundaan yang tidak perlu.

John Calvin mengatakan: "Inilah persembahan kurban pujian yang sejati, ketika kita mengendalikan diri kita dan tetap teguh dalam kepercayaan, bahwa Allah tidak mungkin berdusta atau menipu, walaupun kelihatannya Dia untuk beberapa waktu mempermainkan kita."

Itu sungguh-sungguh akan datang. Idiom Ibrani yang dipakai di sini telah diterjemahkan secara harfiah dalam versi Yunani (LXX): 'datanglah yang akan datang'.

Yang diacu adalah kepastian dari kejadian itu.

Penulis Surat Kiriman kepada jemaat Ibrani, dengan menggunakan LXX, telah menyesuaikan teks tersebut dengan janji kedatangan Kristus yang kedua kali, sebuah peristiwa yang sama pastinya dalam rencana Allah, walaupun dalam pandangan manusia hal itu mungkin kelihatan terlalu lama tertunda.

Demikianlah kita membaca dalam Ibrani 10:37: "Ia yang akan datang, sudah akan ada."

4. Memahami dengan jelas ayat ini sangat penting bagi orang Kristen.

Dari ayat-ayat Perjanjian Lama yang dikutip dalam Perjanjian Baru, ayat ini muncul sebanyak tiga kali dalam konteks yang sangat vital.

Hendaknya diperhatikan, bahwa di mana ayat ini digunakan dalam Perjanjian Baru, ayat ini digambarkan sebagai sebuah prinsip yang tidak berubah tentang hubungan Tuhan dengan umat-Nya, bukan sebagai suatu prediksi mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sistem agama Perjanjian Baru.

Dalam Habakuk, jawaban Ilahi itu dimaksudkan untuk membangkitkan harapan dan keyakinan orang-orang yang secara rohani adalah anak-anak Allah, sambil memberitakan malapetaka atas kekuatan dunia orang Kasdim.

Membusungkan dada (ASV). Menyatakan bahwa yang dimaksud ini adalah orang Kasdim, yang berbeda dengan orang Yahudi, adalah terlalu sederhana.

Tetapi karena penglihatan itu merupakan sebuah jawaban bagi pertanyaan dalam 1:12-17, maka pada orang Kasdimlah terutama pandangan kita tertuju.

Oleh percayanya (AV: faith). Satu masalah kecil adalah: Apakah orang yang dibenarkan oleh iman itu yang hidup, ataukah orang benar itu hidup oleh iman?

Pemakaian oleh Paulus tampaknya menekankan pada arti yang pertama, walaupun maksud penulisannya memungkinkan untuk arti yang belakangan.

Bagaimanapun juga, sang rasul memakai kata "hidup" dengan penekanan khusus.

Kata itu tidak semata-mata berarti bertahan hidup, melainkan hidup kekal dalam kasih karunia Allah.

Sebuah pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kata Ibrani `emûnâ harus diterjemahkan sebagai iman atau kesetiaan?

Di sebagian besar tempat dalam Perjanjian Lama, di mana kata ini dipakai, arti kedua yang digunakan, misalnya, dalam II Raja-Raja 12:15; Yeremia 5:1.

Bagaimanapun, patut diperhatikan, bahwa akar dari kata ini telah dipakai sebelumnya dalam Habakuk 1:5 dengan arti memberikan kepercayaan pada firman atau janji Allah.

Lagi pula, kesetiaan, sebagai suatu aspek karakter manusia sekalipun, bukan terdapat dalam kekosongan.

Kesetiaan harus dipraktikkan dalam hubungan dengan seseorang atau sesuatu.

Dalam hal ini, individu itu harus setia kepada Allah, kepada firman dan perjanjian Allah.

Dia harus teguh bersandar, atau memiliki kepercayaan yang mendalam kepada Allah sendiri.

Penggunaannya dalam PB benar-benar sesuai dengan ini.

Dapat ditunjukkan juga, bahwa sangatlah baik untuk memperkaya ide kita mengenai arti iman menurut Perjanjian Baru dari Perjanjian Lama.

Iman bukanlah semata-mata menyetujui suatu dalil mengenai Allah sebagaimana yang dinyatakan dalam Anak-Nya, Yesus Kristus.

Iman adalah kebalikan dari kesombongan yang hebat, dari kepercayaan pada diri sendiri.

Iman adalah merendahkan diri di hadapan Allah, suatu kesiapan untuk memenuhi kehendak-Nya.

Iman adalah keyakinan, bahwa Allah tidak mungkin berdusta atau pun gagal (2:3), suatu sikap percaya bagaimanapun keadaan yang tampak di luar (3:17).

Seorang yang sangat religius seperti Habakuk, hampir tidak mungkin untuk tidak berpikir mengenai Abraham dan untuk tidak mengingat apa yang dikatakan mengenai sang bapa leluhur itu, bahwa ia percaya kepada Tuhan dan itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.

Akan hidup. Tak diragukan lagi, bahwa dalam nubuatan ini, terdapat gagasan mengenai kelangsungan hidup.

Meskipun demikian, mengingat hubungan spiritual yang terlibat, ini bukanlah satu-satunya gagasan.

Artinya yang sebenarnya dikemukakan dengan baik melalui permohonan Abraham dalam Kejadian 17:18, dengan memakai kata kerja yang sama: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"

Hidup tidak hanya berarti memperoleh keamanan atau perlindungan dalam kehidupan ini, melainkan menikmati kasih setia Allah, yang lebih berarti daripada hidup. Itu berarti dikasihi oleh-Nya, menjadi obyek kasih sayang-Nya.

Masih tersisa dua pertanyaan yang berhubungan dengan pemakaian Habakuk 2:4 oleh Paulus dalam Roma 1:17 dan Galatia 3:11.

Tidakkah rasul ini memakai kata iman dalam pengertian berbeda, berupa suatu antitesis terhadap pandangan, bahwa perbuatan-perbuatan menurut hukumlah yang merupakan alat untuk dapat diterima oleh Allah?

Antitesis ini tidak terdapat dalam Habakuk.

Lagi pula, bukankah iman yang dibicarakan Paulus adalah iman kepada Mesias? yang mengenai Dia tidak pernah disebutkan dalam Kitab Habakuk.

Harus diakui, sejak awal, bahwa Paulus tidak bermaksud untuk mengajarkan, bahwa pembenaran oleh iman kepada Kristus dikemukakan oleh sang nabi.

Meskipun demikian, - Paulus memang mengajarkan, bahwa sebuah prinsip yang pasti telah ditetapkan dalam Alkitab mengenai hubungan antara manusia dengan Allah dan bahwa prinsip ini bekerja secara paling jelas dalam bidang kedudukan hukum manusia di hadapan Allah.

Dengan kata lain, Habakuk telah menetapkan sebuah prinsip di mana kesetiaan, yaitu kepercayaan yang teguh dan rendah hati pada firman Allah, dinyatakan sebagai alat untuk mendatangkan kesejahteraan dan keamanan bagi umat perjanjian.

Paulus menyatakan, bahwa alat yang sama itu merupakan alat untuk memperoleh pembenaran di hadapan Allah.

Dengan berbuat begitu, Paulus sama sekali tidak membelokkan gagasan mengenai kesetiaan, atau iman, dari artinya yang sebenarnya.

Sesungguhnya, bila para pendeta injili modern mau memberikan untuk kata "iman" itu arti seperti yang dikandung dalam bahasa Ibraninya, maka akan kurang kedangkalan yang terdapat dalam pengakuan iman dan praktik kekristenan.

Di sisi lain, haruslah diakui juga, bahwa Paulus, dibandingkan dengan Habakuk, memperluas secara tak terhingga ruang lingkup dari kata hidup, sebab dia menggunakannya untuk kehidupan yang akan datang, untuk lingkup keselamatan atau kesejahteraan kekal yang berbeda dengan kesejahteraan yang hanya bersifat sementara.

Bahwa sang rasul dibenarkan untuk berbuat demikian akan cepat dapat diakui oleh orang-orang Kristen, karena para penulis Perjanjian Baru memakai banyak bentuk dan tokoh dari Perjanjian Lama, dengan kesempurnaan arti yang jauh melebihi arti hal-hal tersebut bagi orang-orang beriman dari sistem agama yang lebih tua.

Akhirnya, berbagai antitesis antara prinsip tentang iman aktif dengan prinsip tentang perbuatan menurut hukum yang bermanfaat sebagai alat keselamatan, tentu saja, merupakan sebagian dari argumentasi sang rasul sendiri.

Ini adalah perkembangan logis dari sifat iman itu sendiri.

5. Orang sombong dan khianat dia yang melagak (AV: Yea also, because he transgresseth by wine, he is a proud man). Kata Ibrani yayin: anggur, merupakan masalah, sebab kata ini muncul dalam teks sebagai subyek dari kata kerjanya.

LXX menafsirkannya secara kiasan sebagai orang sombong.

Beberapa penafsir mengubah konsonannya untuk menghasilkan sebuah kata lain: penindas.

Akan tetapi, Tafsiran Qumran mendukung teks Ibrani.

Barangkali artinya adalah, bahwa tingkah laku orang sombong dan khianat adalah seperti tingkah laku yang dihasilkan anggur. Kita teringat akan kata-kata Kipling dalam Recessional:

"Bila, karena mabuk melihat kekuasaan, kita melepaskan kata-kata liar yang tidak menaruh hormat kepada-Mu."

Mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati (sheôl). Sheol, tempat kediaman orang yang meninggal dunia, dilukiskan sebagai sosok makhluk yang tamak dan ingin sekali menelan umat manusia.

Sumber ayat Alkitab / tafsiran: Software e-sword dan Alkitab.sabda.org.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel