Batas-batas Daerah Yehuda

Setelah belajar perikop Kaleb Mendapat Hebron dari kitab Yosua, maka sekarang kita belajar perikop lanjutannya, yakni Batas-batas Daerah Yehuda.

Berikut ini tampilan ayat-ayat Firman Tuhan dalam Kitab Yosua (Joshua 15:1-12 dengan judul perikop Batas-batas Daerah Yehuda).

Kita belajar perikop Batas-batas Daerah Yehuda ini dengan menggunakan tafsiran / catatan Wycliffe. Semua ayat dikutip dalam bentuk tulisan italic warna biru, sedangkan tafsiran / komentar dalam tulisan biasa.

Ayat Akitab dikutip dari software e-Sword, sedangkan komentarinya dari situs Alkitab.sabda.org. Yuk kita belajar.

Batas-batas Daerah Yehuda (Kitab Yosua 15:1-12)


Jos 15:1 Bagian yang diundikan kepada suku bani Yehuda menurut kaum-kaum mereka adalah sampai ke batas tanah Edom, sampai ke padang gurun Zin ke selatan, di ujung selatan.

Jos 15:2 Batas selatan bagi mereka mulai dari ujung Laut Asin, dari teluk yang menghadap ke selatan;

Jos 15:3 lalu keluar pada sebelah selatan pendakian Akrabim, terus ke Zin, naik ke sebelah selatan Kadesh-Barnea, terus ke Hezron, naik ke Adar, membelok ke Karka,

Jos 15:4 terus ke Azmon dan keluar pada sungai tanah Mesir, sehingga batas itu berakhir ke laut. Itulah bagi kamu batas selatan.

Jos 15:5 Batas timur ialah Laut Asin sampai ke muara sungai Yordan. Batas pada sisi utara mulai dari teluk di muara sungai Yordan itu:

Jos 15:6 batas itu naik ke Bet-Hogla, melalui sebelah utara Bet-Araba, kemudian batas itu naik ke batu Bohan bin Ruben;

Jos 15:7 lalu dari lembah Akhor batas itu naik ke Debir, dan menuju ke utara ke Gilgal di seberang pendakian Adumim, yang di sebelah selatan sungai. Kemudian batas itu terus ke mata air En-Semes dan keluar ke En-Rogel.

Jos 15:8 Kemudian batas itu naik ke lembah Ben-Hinom, di sebelah selatan sepanjang lereng gunung Yebus, itulah Yerusalem; kemudian batas itu naik ke puncak gunung yang di seberang lembah Hinom, di sebelah barat, di ujung utara lembah orang Refaim.

Jos 15:9 Kemudian batas itu melengkung dari puncak gunung itu ke mata air Me-Neftoah, lalu keluar ke kota-kota pegunungan Efron; selanjutnya batas itu melengkung ke Baala, itulah Kiryat-Yearim.

Jos 15:10 Kemudian batas itu membelok dari Baala ke barat ke pegunungan Seir, terus ke utara ke lereng gunung Yearim, itulah Kesalon, turun ke Bet-Semes dan terus ke Timna.

Jos 15:11 Kemudian batas itu keluar ke utara ke lereng gunung Ekron; kemudian batas itu melengkung ke Sikron, terus ke gunung Baala dan keluar dekat Yabneel, sehingga batas itu berakhir di laut.

Jos 15:12 Batas barat ialah Laut Besar dan pantainya. Itulah, ke segala penjuru, batas-batas daerah bani Yehuda menurut kaum-kaum mereka.


Perbatasan Yehuda (15:1-12)


Perbatasan selatan membentang dari teluk selatan yang rendah (lashon, harfiah, "lidah") dari Laut Mati yang terletak di bawah semenanjung el-Lisan, sepanjang wadi-Fikreh, sebelah selatan Pegunungan Gundul (lih. tafsiran atas 11:17), sepanjang Wadi Murrah sampai ke padang gurun Sin, di sebelah selatan Kadesy-Barnea, yang kemudian berbelok ke arah barat laut melewati berbagai oase lain sampai ke Wadi el-Arisy dan Laut Mediterania.

Perbatasan utara berawal di bagian timur di muara Sungai Yordan, membentang ke arah barat laut melalui dua daerah perkemahan kecil yang dilengkapi dengan mata air (Bet-Hogla dan Bet-Araba) hingga tebing curam di bagian barat Lembah Yordan di Wadi Qelt (Lembah Akhor) di mana terdapat batu perbatasan Bohan.

Perbatasan tersebut kemudian menanjak di bagian pesisir utara Wadi Qelt mengarah ke Gilgal (Gelîlôt) yang lain (18:17) dekat Ascent of Blood (Pegunungan Darah, tidak jauh dari penginapan orang Samaria yang Baik Hati pada jalur Yerusalem - Yerikho) di bagian selatan Wadi Qelt (sungai) itu.

Perbatasan itu kemudian naik terus hingga En-Semes (Mata Air para Rasul, di sebelah selatan Betani) kemudian melewati Gunung Sandungan sampai En-Rogel (sumur dekat Yebus-Sion, pada titik pertemuan Lembah Kidron dan Lembah Hinom, I Raj. 1:9).

Di bagian selatan Yerusalem perbatasan itu menanjak ke Lembah Hinom (bahasa Aramnya, Ge-henna) hingga akhirnya mencapai puncak (di stasiun kereta api sekarang) yang memisahkannya dari ujung utara Lembah Refaim (lembah para raksasa; II Sam. 5:18, 22).

Dengan demikian perbatasan itu berbalik ke arah barat laut menuju ke arah mata air Me-Neftoaf (Yos. 15:9; 'Ain Lifta) dan mengikuti jalur jalan raya Yerusalem - Yafa yang modern menuju ke Kiryat - Yearim (lih. taf. 9:16-21; bdg. 15:60; I Taw. 13:6).

Di sebelah barat kota tersebut perbatasan berbalik ke arah selatan melewati Seir (Sores; LXX 15:59a; Saris zaman sekarang), memasuki Lembah Sorek (Hak. 16:4, Wadi es-Surar) di utara Kesalon, dan turun menuju Bet-Semes (Ir-Semes, 19:41; Tel Rumeileh yang mungkin ketika itu tidak berpenghuni, di antara tahap IVa dan tahap IVb, sebab tidak disebutkan dalam pasal 10 maupun dalam 15:33-36 atau dalam Surat-surat Amama).

Perbatasan itu membentang terus melewati Timna (Tel el-Batasi, lima mil di bagian bawah Wadi es-Surar dekat Bet-Semes) hingga mencapai tepi bukit di sebelah utara Ekron (Kirbet el-Muqana) di bagian selatan dari wadi pada saat meninggalkan Shephelah.

Perbatasan itu berbelok di dalam wadi sesudah Sikron (Tel el-Ful, tiga setengah mil barat Laut Ekron) di pesisir utara melewati Gunung Baala (19:44; Mughar, sebuah tanjakan curam dua mil di sebelah barat Laut Sikron) terus ke Yabneel (Yamnia, Yavneh) hingga ke muara wadi itu di laut (Y. Aharoni, The Northern Boundary of Judah, PEQ, 1958 hlm. 27-31).

Metode untuk menggambarkan perbatasan ini - yaitu membuat perbatasan sesuai dengan tanda-tanda topografis dari kota ke gunung ke kota ke sungai dan seterusnya - nyaris persis serupa pada zaman yang sama dalam sejarah ini dalam perjanjian penentuan perbatasan di antara raja orang Het, Supliuliuma, dengan Nigmadu dari Ugarit, penguasa sebuah kota kerajaan di pantai Siria yang telah dikalahkan (Claude Scaheffer, Le Palais Royal d'Ugarit, IV hlm. 10-18).

Perikop Selanjutnya: Kaleb Merebut Hebron.

Pembagian Negeri yang Dijanjikan (13:1-22:34)

Bagian yang panjang dari kitab ini mengemukakan rincian geografis dari wilayah yang diperoleh setiap suku, dengan batas-batas tanah setiap suku pada masa mendatang serta biasanya dengan jumlah kota-kota yang ada di dalam wilayah tersebut.

Sebagaimana telah dikemukakan Kaufman, pembagian negeri itu merupakan kebijaksanaan nasional di antara suku-suku yang menaklukkan Kanaan, dimulai ketika mereka masih berada di perkemahan pusat mereka di Gilgal (op. cit, hlm. 25).

Perlu diketahui bahwa suku-suku tersebut belum menduduki wilayah bagian mereka pada saat daftar ini disusun.

Kenyataannya, suku Dan tidak tinggal menetap di wilayah yang diserahkan kepada mereka; suku Efraim tidak menduduki dan menetap di Gezer (16:3, 10; 21:21); dan suku Benyamin tidak pernah mengalahkan atau menduduki sendiri Yerusalem sekalipun kota ini diserahkan kepada suku tersebut (18:28).

Selanjutnya, kenyataan bahwa Ofra dan Ofni, dua kota yang dimiliki oleh suku Benyamin (18:23, 24), terletak tiga sampai empat mil di sebelah utara perbatasan dengan wilayah suku Efraim, menunjukkan bahwa daftar ini dibuat pada masa yang agak dini sebelum ada pertikaian antar suku.

Dengan demikian daftar wilayah setiap suku ini tidak mungkin merupakan daftar kota dan distrik dari kerajaan Israel dan Yehuda entah itu pada zaman Yosia (sebagaimana dikemukakan Alt, Noth dan Mowinckel) atau pada zaman Yosafat (sebagaimana dikemukakan Cross, Wright, Albright mengenai Yos. 15:21-62; JBL, LXXV, September 1956, hlm. 202-226).

Banyak kota dan pedesaan yang disebutkan di dalam pasal-pasal ini tidak ditaklukkan oleh Israel selama berabad-abad.

Dan sejumlah kota yang terdaftar mungkin saat itu tidak didiami oleh orang Kanaan dan juga tidak didiami oleh orang Israel untuk jangka waktu yang lama sesudah negeri itu dibagi.

Suku Ruben, suku Gad dan setengah suku Manasye sudah memiliki wilayah di Trans-Yordan yang diserahkan kepada mereka oleh Musa (Bil. 32:1-42; Yos. 13:8-33). Kembalinya pasukan yang telah membantu saudara-saudara mereka menduduki negeri yang dijanjikan dikisahkan pada pasal 22.

Sebagai penggenapan dari berkat untuk suku-suku yang dinyatakan oleh Yakub (Kej. 49) dan Musa (Ul. 33), pembagian utama dari Negeri yang Dijanjikan itu adalah di antara suku Yehuda dan Yusuf; penempatan suku-suku lain sebagaimana ditetapkan secara ilahi tergantung dari pembagian dasar ini.

Suku Yehuda memperoleh wilayah di Kanaan selatan sebab terkait dengan Yehuda adalah Kaleb yang mengklaim Hebron sebagai miliknya (14:12-15).

Suku Simeon kemudian memperoleh bagian di dalam wilayah Yehuda sebab "bagian bumi Yehuda itu terlalu besar bagi mereka" (19:9).

Keturunan Yusuf - suku Efraim dan setengah suku Manasye - menerima Kanaan tengah (Samaria), jelas karena Sikhem telah diserahkan kepada Yusuf oleh Yakub (Kej. 48:21, 22; Yos. 24:32).

Silo di mana Kemah Suci berada (18:1), terletak dalam wilayah suku Efraim, tempat strategis di daerah gunung ini dipilih karena mudah dipertahankan dan berada di tengah suku lainnya.

Di antara suku Yehuda dan Efraim, terletak wilayah yang kemudian diserahkan kepada suku Benyamin (18:11-28) dan yang ke arah barat menuju Mediterania kepada suku Dan (19:40-48).

Suku-suku yang masih belum memperoleh apa-apa - Zebulon, Isakhar, Asyer dan Naftali - pada saat yang bersamaan membuang undi untuk wilayah di utara wilayah Manasye yaitu di daerah antara Yizril dan Galilea (19:10-39).

Di samping pembagian tanah di antara para suku Israel, juga ditentukan kota-kota perlindungan dan kota tempat tinggal suku Lewi (20:1-21:42).

Cara penempatan ketujuh suku yang tersisa adalah dengan membuang undi di hadapan Tuhan (18:6; lih. taf. 7:16-18).

Setiap wilayah, dengan perbatasannya, tidak diragukan lagi telah ditentukan menurut garis-garis pertahanan alamiah oleh sebuah panitia khusus yang dipilih untuk melukiskan sisa wilayah negeri itu (18:4-9).

Pembagian negeri itu bukan merupakan tugas yang mudah, tetapi justru sangat rumit sehingga memerlukan petunjuk yang teliti dan waktu yang cukup panjang.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel