2 Tawarikh: Raja Yoyakim

Klik:

2 Chronicles 36:5-8


2Ch 36:5 Yoyakim berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan sebelas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allahnya.

2Ch 36:6 Nebukadnezar, raja Babel, maju melawan dia, membelenggunya dengan rantai tembaga untuk membawanya ke Babel.

2Ch 36:7 Juga beberapa perkakas rumah TUHAN dibawa Nebukadnezar ke Babel dan ditempatkan di istananya di Babel.

2Ch 36:8 Selebihnya dari riwayat Yoyakim, segala kekejian yang dilakukannya dan kesalahan yang ada padanya, sesungguhnya semuanya itu tertulis dalam kitab raja-raja Israel dan Yehuda. Maka Yoyakhin, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.


Tafsiran Wycliffe


5. Yoyakim ... sebelas tahun lamanya ... memerintah, dari tahun 608-598 sM.

Ia melakukan apa yang jahat. Dia menarik pajak tanah untuk membayar upeti kepada Firaun (II Raj. 23:35) sedangkan dirinya tetap hidup dalam kemewahan (Yer. 22:14, 15); dia menyelewengkan keadilan dan menindas golongan yang miskin (Yer. 22:13, 17) dan menganiaya para nabi yang menegur dirinya (bdg. II Taw. 35:8, 16; Yer. 26:21-24; 32:36).

6. Nebukadnezar ... maju melawan dia. Pada musim semi tahun 605 sM, pasukan Babel memperoleh kemenangan yang menentukan terhadap Nekho di Karkemis (lih. taf. 35:20; Yer. 46:2).

Akibatnya, orang-orang Mesir didesak hingga memasuki batas wilayah mereka sendiri dan Palestina ditinggalkan untuk dikuasai Nebukadnezar (II Raj. 24:7).

Sang penakluk itu kemudian membelenggu Yoyakim dengan rantai tembaga dan membawanya ke Babel, walaupun ancaman saja tampaknya sudah cukup tanpa membawa dia secara fisik ke Babel.

7. Juga ... dibawa Nebukadnezar beberapa perkakas rumah Tuhan dan sejumlah tawanan pilihan termasuk Daniel (bdg. Dan. 1:1-3).

Peristiwa ini menandai berawalnya masa pembuangan di Babel sepanjang tujuh puluh tahun, dari tahun 605-536 sM (Yer. 29:10).

Kebenaran dari terjadinya serangan Palestina pada tahun 605 sM ini, yang pernah dipertanyakan oleh para kritikus Perjanjian Lama, telah secara meyakinkan dibuktikan oleh publikasi dua buah prasasti Babel dari masa pemerintahan Nebukadnezar pada tahun 1956.

Di dalam prasasti-prasasti tersebut Nebukadnezar menyatakan, bahwa dia menaklukkan "seluruh negeri Hatti" (sisi barat Lembah Subur termasuk Palestina) pada musim panas tahun 605 sM dan "menarik upeti yang besar dari Hatti ke Babel" (bdg. J. B. Payne, "The Uneasy Conscience of Modern Liberal Exegesis, Bulletin of the Evangelical Theological Society, I:1 Musim Dingin, 1958, hlm. 1418).

8. Selebihnya dari riwayat Yoyakim. Sesudah mengabdi kepada Nebukadnezar selama tiga tahun (hingga tahun 602 sM), dia memberontak (II Raj. 24:1, 2) namun meninggal sebelum dapat dihukum.

Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia (608-586 sM; 36:1-16).

Berbeda dengan kesalehan dan kekuatan watak dari ayah mereka, para raja Yehuda yang terakhir ini, tiga orang putra dan satu orang cucu Yosia, menunjukkan suatu ketidakmampuan moral yang mengakibatkan sisa kerajaan Israel berakhir secara hina.

Pengusiran Yoahas dari kedudukannya sebagai raja menandai akhir dari pemerintahan Yehuda yang berdiri sendiri (36:1-4); rezim Yoyakim menyaksikan berdirinya kekuasaan Babel (ay. 5-8); putranya, Yoyakhin, menuai hasil pemberontakan ayahnya (ay. 9, 10), dan Zedekia secara sembrono melancarkan pemberontakan terakhir melalui ketidaksetiaannya kepada penguasanya, Nebukadnezar, yang dengan demikian menjadi alat Allah untuk memusnahkan bangsa yang tidak setia kepada-Nya (ay. 11-16).

Bagian ini merupakan kisah serupa dalam bentuk lebih ringkas dari II Raja-Raja 23:31-24:20.

Para Pemimpin Yehuda (12:1-36:16).

Sembilan belas laki-laki dan satu orang perempuan yang menduduki takhta Daud dari tahun 930 sM hingga 586 sM sangat beragam wataknya mulai dari yang kokoh dan baik hingga yang lemah dan jahat.

Nasib setiap bangsa sebagian besar ditentukan oleh kaliber kepemimpinannya, dan hal ini sangat nyata di dalam kehidupan bangsa Israel di mana tangan Allah sering kali ikut campur tangan secara lebih nyata daripada di tempat lainnya.

Penulis Tawarikh dengan demikian memberikan dorongan kepada manusia sezamannya untuk menyerahkan diri kepada Allah dengan cara menunjukkan berdasarkan berbagai kelepasan Yehuda secara mukjizat oleh Allah pada masa lalu betapa "iman adalah kemenangan" yang dapat mengalahkan dunia (II Taw. 20:20).

Namun pada saat yang bersamaan, dan dari data sejarah yang sama pula, penulis Tawarikh mengingatkan mereka akan bahayanya berkompromi dengan dunia, bersikap acuh terhadap Hukum Taurat dan bertindak menyimpang dari Tuhan.

Sebab pola dasar dari sejarah Yehuda adalah kemerosotan religius.

Dosa demikian mengakar di dalam kehidupan mereka sehingga seorang Yosia sekalipun tidak mampu membalik arus: "Oleh sebab itu murka Tuhan bangkit terhadap umat-Nya, sehingga tidak mungkin lagi pemulihan" (36;16).

Allah bisa menghukum umat yang telah dipilih-Nya!

Di dalam hal tertentu 12:1-36:16 sangat sama dengan I Raja-Raja 14:22; II Raja-Raja 24:20.

Akan tetapi, sebagian besar dari Kitab Raja-Raja dihilangkan, misalnya: kehidupan para nabi dan, tentu saja, juga seluruh sejarah kerajaan Israel di utara (bdg. Pendahuluan, Tujuan Penulisan).

Namun tentang Yehuda, penulis Tawarikh memberikan sejumlah teladan mengesankan tentang iman dan tentang kelepasan yang tidak ada paralelnya di dalam Kitab Raja-Raja.

Sumber bahan: Software e-sword dan Alkitab.sabda.org.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel