Song of Solomon 1:1: Kidung Agung Dari Salomo

Klik:

Song of Solomon 1:1


Son 1:1 Kidung agung dari Salomo.

Tafsiran Wycliffe


1. Mengenai ayat ini, lihat Pendahuluan.

PENDAHULUAN KIDUNG AGUNG


Nama, Kepenulisan, dan Integritas. Kitab ini termasuk dalam lima megilloth, atau kitab-kitab gulungan, yang tiap tahun dibaca oleh bangsa Yahudi pada hari kedelapan dari Paskah.

Judul Kidung Agung (1:1) merupakan terjemahan harfiah dari bahasa Ibrani Shîr hashshîrîm.

Pengulangan kata benda dalam bentuk jamak genitif adalah gaya Ibrani untuk menunjukkan sifat khusus Kidung itu: yakni yang paling bagus, atau paling unggul dari antara semua kidung (bdg. Kej. 9:25; Kel. 26:33; Pkh. 1:2).

Walaupun ayat pertama dari pasal 1 dapat juga dibaca: "Kidung Agung tentang atau mengenai Salomo," pandangan tradisional menganggap raja Salomo sebagai penulis Kidung Agung, karena isi kitab ini cocok sekali dengan karunia hikmat luar biasa yang kita tahu dimiliki oleh Salomo (I Raj. 4:32, 33), dan tidak ada cukup alasan untuk menyimpang dari pendapat sejarah ini.

Kesatuan kitab ini hampir tidak dapat dibantah.

Pengulangan-pengulangan yang sama terdapat dalam 2:7; 3:5; 8:4; penggambarannya sama di sepanjang kitab ini; dan tokoh-tokoh yang sama muncul berulang-ulang.

Penafsiran. Mengenai gaya sastranya, Kidung Agung jelas merupakan syair asmara. Yang sulit ialah bagaimana menafsirkannya.

Berikut ini adalah beberapa dari banyak penafsiran yang telah dikemukakan:

1. Alegoris. Ini adalah penafsiran yang lazim di antara bangsa Yahudi dari zaman kuno, dan dari mereka penafsiran itu diteruskan kepada Gereja Kristen.

Orang-orang Yahudi menganggap Kidung itu sebagai mengekspresikan hubungan kasih antara Allah dengan umat-Nya.

Gereja Kristen melihat di dalam Kidung ini, refleksi kasih antara Kristus dengan Gereja.

Pada dasarnya Hengstenberg dan Keil mendukung pendapat ini.

2. Pandangan yang berhubungan dengan drama. Inti dari pandangan ini, sebagaimana disokong oleh Franz Delitzsch, adalah bahwa Kidung ini merupakan sebuah drama yang menggambarkan Salomo telah jatuh cinta kepada seorang gadis dusun, perempuan Sulam, yang diboyongnya ke istana raja di Yerusalem.

Suatu bentuk khusus dari pandangan ini, hipotesis gembala, memperkenalkan tokoh ketiga, yaitu seorang gembala, ke dalam Kidung ini, yang kepadanya si gadis Sulam tetap setia, walaupun Salomo merayunya.

3. Pandangan yang berhubungan dengan lambang. Pandangan ini juga berpendapat, bahwa di dalam Kidung itu digambarkan hubungan kasih yang agung antara Kristus dengan Jemaat.

Raja Salomo dianggap sebagai lambang untuk Kristus, sedang mempelai perempuan melambangkan Jemaat.

Pandangan ini berbeda dengan pandangan alegoris, sebab berusaha menggunakan dengan sebaik-baiknya bahasa asli Kidung Agung tanpa mencari makna khusus dalam setiap frasa, seperti pandangan alegoris.

4. Pandangan alamiah atau pandangan harfiah. Prinsip dasar pandangan ini adalah bahwa Kidung ini merupakan syair yang memuji cinta manusia.

Dari titik itu, oleh karena kitab ini termasuk dalam kanon Alkitab, maka para penganut pandangan ini mungkin sangat berbeda pendapat mengenai pentingnya kidung cinta ini.

Tafsiran ini dibuat berdasarkan asumsi, bahwa pandangan alamiah adalah benar.

Dengan menerima pendekatan ini, arti kanonik dari Kidung Agung bisa dinyatakan sebagai berikut:

(a) Kitab ini dinamakan "Kidung Agung," dan dapat dipahami demikian.

Ini adalah kidung yang mungkin sekali dinyanyikan oleh Adam di Firdaus, ketika Tuhan dengan pemeliharaan-Nya yang bijaksana membawa Hawa kepadanya untuk menjadi istri.

Dengan bahasa yang terus terang, namun bersih, kitab ini memuji kasih timbal balik antara suami dan istri; dan karenanya mengajar kita untuk tidak merendahkan keindahan fisik dan kasih dalam pernikahan sebagai kasih yang rendah derajatnya.

Karena semua itu adalah anugerah dari Sang Pencipta kepada makhluk ciptaan-Nya (bdg. Yak. 1:17), maka hal-hal itu adalah baik dan sempurna pada tempatnya dan untuk tujuannya.

Kitab ini memberikan peringatan keras terhadap dualisme tidak Alkitabiah yang menganggap hal-hal fisik dan materi kurang bernilai dibandingkan dengan hal-hal rohani, dan yang memuji keadaan tidak menikah sebagai lebih mulia daripada keadaan menikah.

(b) Sebagai imbangan dari (a), Kidung ini mengajar kita untuk tidak mengagungkan keindahan fisik dan mengidolakan aspek biologis dari perkawinan.

Meskipun kecantikan dan keindahan fisik digambarkan secara terus terang, hubungan kasih yang digambarkan dalam Kidung ini bersifat mulia.

Di mana pun, gambarannya tidak ada yang mendekati apa yang mungkin dianggap cabul dan tak bermoral.

Jadi, kepada kita, Kidung ini menunjukkan hubungan kasih yang ideal dalam perkawinan.

(Mengenai terpisahnya dua kekasih yang dibicarakan itu, lihat tafsirannya).

Rasul Paulus memakai perkawinan untuk mengilustrasikan sifat kasih antara Kristus dan Jemaat-Nya (Ef. 5), tetapi tentu tidak semua perkawinan mencerminkan ikatan kasih yang intim ini.

Hanya hubungan perkawinan yang sesuci yang digambarkan dalam Kidung ini yang dapat bermanfaat untuk tujuan ini.

(c) Membaca kitab ini, tanpa membangkitkan pikiran-pikiran yang menjurus pada kenikmatan indriawi, semestinya akan membuat kita memuliakan Sang Pencipta, yang menjadikan manusia menurut gambar-Nya, yang menciptakan tubuh manusia indah, yang membuat Adam menginginkan teman seperti dirinya tetapi berjenis lain, dan yang membawa pengantin perempuan pertama - puncak dari karya penciptaan - kepada mempelai laki-laki yang mengaguminya.

Membaca kitab ini, semestinya juga menyadarkan kita akan berbagai kelalaian penuh dosa dalam sikap kita terhadap lawan jenis secara umum, dan khususnya dosa-dosa kedagingan kita dalam pernikahan.

Jadi, melalui kitab inilah, Roh Kudus akan membawa orang berdosa kepada Kristus, yang adalah juga Penebus dan Pengudus ikatan pernikahan suci.

Melihat serta mengalami kemurnian dan kekudusan ikatan kasih duniawi ini juga akan membuat kita lebih memahami hubungan kasih yang surgawi dan kekal, yaitu ikatan kasih yang murni tanpa cela dan yang tak dapat dibinasakan antara Kristus dan Jemaat-Nya.

GARIS BESAR KIDUNG AGUNG


Kitab ini tidak menunjukkan pembagian yang jelas. Berikut ini adalah garis besar yang diusulkan:

I. Kasih timbal balik antara mempelai perempuan dan mempelai laki-laki (1:1-2:7).

II. Mempelai perempuan bercerita tentang mempelai laki-lakinya. Impian pertamanya tentang dia (2:8-3:5).

III. Iring-iringan mempelai. Impian kedua dari mempelai perempuan. Percakapannya dengan puteri-puteri Yerusalem (3:6-6:3).

IV. Pujian selanjutnya dari mempelai laki-laki terhadap kecantikan mempelai perempuannya. Kerinduan mempelai perempuan akan mempelai laki-laki (6:4-8:4).

V. Pernyataan-pernyataan terakhir mengenai kasih timbal balik (8:5-14).

Sumber bahan: Software e-sword dan Alkitab.sabda.org.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel