Amsal 1:1-7: Tujuan Amsal Ini

Klik:

Proverbs 1:1-7


Pro 1:1 Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel,

Pro 1:2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna,

Pro 1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran,

Pro 1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda--

Pro 1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan--

Pro 1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.

Pro 1:7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.


Tafsiran Wycliffe - Pendahuluan Amsal


AJARAN DARI AMSAL. Inti dari Kitab Amsal ialah ajaran tentang prinsip moral dan prinsip etika.

Keunikan kitab ini adalah bahwa sebagian besar isinya merupakan ajaran yang disajikan dengan cara memperlihatkan kontrasnya.

Yang terutama patut diperhatikan ialah pasal 10-15, di mana hampir setiap ayat dipisahkan dengan kata "tetapi."

Pada bagian pertama, pasal 1-9, juga dipergunakan kontras - antara yang baik dan yang jahat.

Kebaikan dalam bagian ini ditunjukkan secara menonjol oleh beberapa kata - hikmat, didikan, pengertian, kebenaran, keadilan, kejujuran, pengetahuan, kebijaksanaan, ilmu, pertimbangan-pertimbangan - tetapi khususnya hikmat, yang muncul tujuh belas kali pada bagian ini dan dua puluh dua kali pada bagian selebihnya dari kitab ini.

Teks penting dari kitab ini ialah pernyataan terkenal pada 1:7, "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan," yang diulang pada akhir bagian ini (9:10).

Pernyataan ini muncul kembali kata per kata secara alfabetis (dengan klausa dibalik) dalam Mazmur 111:10, dan dalam bentuk yang hampir sama, sebagai klimaks dari Ayub pasal 28, yang menggambarkan secara puitis sekali pencarian akan hikmat.

Yang unik pada bagian Amsal ini ialah personifikasi hikmat sebagai seorang perempuan.

Ini terlihat pertama kali dalam 3:15. Sebetulnya, kata ganti dalam 3:15-18 yang merujuk pada hikmat dapat diterjemahkan dengan "itu" (Ing., it) maupun "dia" (Ing., she), tetapi personifikasi tersebut diterima karena rujukan-rujukan sesudahnya.

Amsal 7:4 membuka jalan bagi personifikasi tersebut, "Katakanlah kepada hikmat: "Engkaulah saudaraku [perempuan]."

Personifikasi itu menjadi jelas dalam pasal 8 dan 9, di mana Hikmat mengundang orang-orang tidak berpengetahuan untuk ikut dalam perjamuannya.

Hanya di dalam Kitab Amsal dan hanya pada bagian pertama inilah hikmat dipersonifikasikan seperti itu.

Untuk memahami bagian pertama ini orang perlu sekali mengenali personifikasi tersebut.

Karena kata "hikmat" dalam bahasa Ibrani merupakan kata benda jenis feminin, maka wajar jika kata ini dipersonifikasikan sebagai seorang perempuan.

Lebih penting lagi, penulis Amsal membedakan antara "hikmat," perempuan yang bijaksana, dengan perempuan sundal, dan perempuan asing.

Sebagaimana hikmat berarti semua kebajikan, demikian juga barangkali perempuan asing tersebut melambangkan dan menyiratkan segala dosa.

Kontrasnya sengaja dipersiapkan secara artistik.

Hikmat berseru-seru di jalan-jalan (8:3).

Ia mengajak, "Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari" (Ams. 9:4).

Sebaliknya, perempuan bebal yang mengajak menikmati air curian dan yang tamu-tamunya, adalah penghuni dunia orang mati (9:17, 18), memberikan undangan yang sama, "Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari" (9:16).

Hikmat mengajak orang tak berpengalaman untuk membuang dosa; perempuan sundal mengajaknya untuk menuruti nafsunya.

Dengan demikian, bagian ini, Amsal 1-9, mempertentangkan dosa dengan kebenaran.

Kata-kata seperti "hikmat," "didikan," "pengertian," dan sebagainya pada seluruh bagian ini bukan saja berarti kecerdasan dan kecakapan manusia, melainkan juga berlawanan dengan hal yang jahat.

Jadi, yang dimaksud hikmat di sini adalah sifat moral.

Perlu diperhatikan, bahwa ini merupakan pemakaian yang khusus.

Pada sebagian besar pemakaian dalam Perjanjian Lama, hikmat adalah sekadar kecakapan atau kecerdikan.

Bahkan, dalam Kitab Pengkhotbah di mana hikmat juga ditekankan, hikmat adalah sekadar kecerdasan manusia dan karenanya termasuk di dalam kesia-siaan (Pkh. 2:12-15).

Hanya dalam Ayub 28 dan dalam mazmur-mazmur tertentu (37:30; 51:8; 90:12; 111:10) konsep dari Kitab Amsal mengenai hikmat tampak nyata.

Bahkan hikmat (kebijaksanaan) yang membuat Salomo termasyhur dalam kitab-kitab sejarah, sebenarnya bukan hikmat ini.

Salomo termasyhur karena kecakapannya dalam ilmu alam (I Raj. 4:33) dan hukum (I Raj. 3:16-28) dan kecerdikannya yang luar biasa (I Raj. 10:1-9).

Amsal menambahkan konsep tentang ketajaman mental, kelurusan moral, yang merupakan satu-satunya hal yang menjadikan akal budi berarti.

Pada bagian kedua, Amsal Salomo, 10:1-22:16, ajarannya disajikan, nyaris hanya melalui pernyataan satu ayat.

Pada seluruh pasal 15, ajaran diberikan lewat kontras yang ditunjukkan oleh kata "tetapi" di tengah hampir setiap ayat.

Karenanya, lebih sering muncul persamaan gagasan daripada perbedaan.

Bagian ini meliputi pokok yang luas dan tak teruraikan.

Tetapi, sudut pandangnya konsisten.

Salomo membedakan hikmat dengan kebodohan.

Dan sebagaimana dalam Bagian 1, ini bukan pertentangan antara kecerdasan dengan kebodohan akal budi manusia, melainkan pertentangan antara hikmat (kebijaksanaan) moral dengan dosa.

Pada bagian ini, hikmat tidak pernah dipersonifikasikan, tetapi sinonim-sinonim yang sama untuk kata itu pada Bagian I dipakai di sini - pengertian, kebenaran, didikan/ajaran.

Orang bodoh juga mempunyai sinonim-sinonim: pencemooh, pemalas, orang curang.

Bagian-bagian berikutnya (lihat Garis Besar) melanjutkan tema ini.

Seperti ditunjukkan oleh Toy (Crawford H. Toy, ICC dalam Proverb, hlm. xi), etika dalam kitab ini sangat tinggi.

Di sini ditekankan tentang kejujuran, kesetiaan, penghargaan terhadap jiwa dan hak milik.

Orang didorong untuk memperjuangkan keadilan, cinta kasih, dan belas kasihan kepada orang lain.

Suatu kehidupan rumah tangga yang baik, disertai didikan yang hati-hati terhadap anak-anak dan kedudukan yang terhormat bagi wanita tercermin di sini.

Mengenai pandangan keagamaan, Tuhan dipahami sebagai Pencipta moralitas serta keadilan, dan tersirat juga monoteisme.

Tetapi, di sini sedikit sekali disebut tentang Hukum Taurat dan nubuat (29:18), keimaman dan persembahan kurban (15:8; 21:3, 27).

Sang penulis sendiri yang berbicara, dengan mengajarkan prinsip-prinsip, bahwa perilaku yang benar berasal dari Tuhan.

KEPENULISAN. Nama Salomo muncul pada tiga bagian kitab ini - 1:1; 10:1 dan 25:1.

Jadi, ada klaim bahwa bagian-bagian pokok kitab ini ditulis oleh Salomo, sesungguhnya dia juga menulis semua bagian, kecuali Bagian III, 22:17-24:22; IV, 24:23-34; dan VI, 30:1-31:31.

Para sarjana kritis membantah klaim ini.

Toy (op. cit. hlm. xix) yang membantah, bahwa Pentateukh ditulis oleh Musa dan berpendapat, bahwa Yesaya dan para nabi bukanlah penulis kitab-kitab yang berkaitan dengan diri mereka, cukup wajar untuk tidak mengakui Salomo sebagai penulis karya ini.

Berdasarkan banyak petunjuk internal, dia menyatakan, bahwa kitab tersebut ditulis pada zaman pasca-Pembuangan.

Driver (S. R. Driver, Introduction to the Literature of the Old Testament, edisi keempat, hlm. 381 dst.) berpendapat, bahwa bagian-bagian kitab ini berasal dari zaman pra-Pembuangan, tetapi sedikit saja - kalaupun ada - yang ditulis oleh Salomo.

Pfeiffer (Robert H. Pfeiffer, Introduction to the Old Testament, hlm. 649-659) meneliti ciri-ciri khas internal Kitab Amsal, dan berpikir untuk menetapkan tanggal dari berbagai strata.

Karena sastra hikmat di Mesir pada sekitar 1700-1500 SM murni bersifat sekular, dia berkesimpulan, bahwa strata keagamaan dalam Amsal pasti berasal dari abad keempat SM.

Setelah puas merekonstruksi sejarah pemikiran di Israel, dia menetapkan tanggal Kitab Amsal dalam kaitan dengan perkembangan itu.

Kesimpulannya adalah, bahwa kitab ini diselesaikan sesudah 400 SM, dan beberapa waktu sebelum akhir abad ketiga SM.

W. F. Albright ("Some Canaanite-Phoenician Sources of Hebrew Wisdom" dalam Wisdom in Israel and the Ancient Near East, disunting oleh M. Noth dan D. W. Thomas, hlm. 13) mempelajari kemiripan bahasa Kitab Amsal dengan bahasa Ugarit, lalu dia berpendapat, bahwa kitab tersebut "seluruh isinya barangkali berasal dari zaman pra-Pembuangan, tetapi, bahwa kebanyakan dari padanya disampaikan secara lisan hingga abad kelima.

Dia berpendapat, bahwa Salomo mungkin menulis bagian intinya.

Lihat juga artikel oleh salah seorang murid Albright, Cullen I. K. Story, "The Book of Proverbs and Northwest Semitic Literature," JBL, LXIV (1945), 319-337. Charles T. Fritsch (The Book of Proverbs, IB, Vol. IV, hlm. 775) berdasarkan alasan-alasan seperti itu mengemukakan pendapat yang sangat mirip.

Oesterley (W. O. E. Oesterley, The Book of Proverbs, hlm. xxvi) memberi tanggal sebelum zaman Pembuangan untuk sebagian besar kitab itu, tetapi untuk Bagian I, 1:1-9:18, dan Bagian VI, 30:1-31:31, dia memberi tanggal abad ketiga "dan sangat mungkin lebih belakangan lagi."

Faktanya adalah, bahwa perhatian paling teliti atas bukti-bukti internal ini tidak dapat menetapkan tanggal untuk kitab tersebut, atau kumpulan-kumpulannya.

Sekalipun amsal-amsal sekular mungkin lahir lebih dulu daripada amsal-amsal keagamaan, atau sekalipun aforisme satu baris ada lebih dulu daripada bentuk-bentuk [amsal] yang lebih maju, toh perkembangan bentuk-bentuk amsal yang rumit, dan bersifat keagamaan pasti telah berkembang sepenuhnya sebelum zaman Salomo.

Sekalipun Yeremia melawan orang-orang bijaksana pada zamannya (Yer. 18:18), hal ini tidak memberikan bukti apa-apa mengenai tanggal penulisannya.

Dia juga menentang para imam, para nabi dan para raja, tetapi itu tidak membuktikan, bahwa jabatan-jabatan ini berasal dari zaman pasca-Pembuangan.

Pendekatan paling menjanjikan untuk menentukan tanggal penulisan berdasarkan kriteria internal ialah pendekatan Albright melalui perbandingan kata-kata dan bentuk-bentuk dalam bahasa Ugarit.

Bukti-bukti eksternal kita tidak begitu lengkap seperti yang kita harapkan, tetapi itu tidak boleh sama sekali dihilangkan.

Sebagai contoh, Amsal 15:8 dikutip dengan rumusan, "Ada tertulis," dalam Dokumen [Imam] Zadok (kolom XI, baris 20; C. Rabin, The Zadokite Documents, hlm. 58).

Ini menunjukkan, bahwa kitab tersebut dianggap sebagai kanonik pada abad kedua SM.

Karya Salomo mengenai "amsal dan perumpamaan" disebut dalam Kitab Yesus bin Sirakh 47:17, bertanggal sekitar 180 SM.

Meskipun demikian, tidak ada bukti eksternal sebelum ini.

Oesterley menyatakan adanya kasus peminjaman dari Amsal oleh Story of Ahikar dalam abad kelima (lih. tafsiran tentang 23:14).

Pendapat orang mengenai tanggal penulisan Kitab Amsal sangat dipengaruhi oleh pandangannya tentang kitab-kitab lainnya.

Jika orang berpendapat, bahwa Pentateukh belum ditulis sampai 400 SM dan Kitab-kitab para nabi sebagian besar berasal dari zaman pasca-Pembuangan, maka dia pasti akan menolak, bahwa Salomo menulis Kitab Amsal.

Tetapi, jika tanggal penulisan ditetapkan pada zaman pra-Pembuangan untuk Pentateukh, Mazmur dan Kitab-kitab Para Nabi (sebagaimana oleh pengarang ini), maka tampaknya tidak ada alasan yang kuat untuk menyangkal anggapan tradisional, bahwa Salomo menulis bagian-bagian yang menyebut namanya.

Fritsch (op. cit., hlm. 770) keberatan terhadap kebiasaan mengagung-agungkan kebijaksanaan Salomo padahal "dia telah melakukan banyak kekeliruan yang bodoh dalam segala bidang sepanjang hidupnya."

Rasanya ini adalah penilaian yang kasar terhadap raja Israel yang paling cemerlang ini.

Bahwa dia telah melakukan kesalahan-kesalahan pada masa pemerintahannya yang panjang selama empat puluh tahun, itu adalah jelas; tetapi arkeologi memberikan kesaksian mengenai kecakapan Salomo di bidang arsitektur, kemampuan dalam pemerintahan, dan berbagai penemuan dalam bidang teknik yang berhubungan dengan pengecoran tembaga di Ezion-Geber.

Memang, pada masa tuanya dia bersifat menindas (I Raj. 12:10), tetapi kemunduran pada masa tuanya itu jangan sampai membuat kita lupa pada kecemerlangannya ketika muda.

Lebih banyak kritikus menyatakan keberatan terhadap karakter Salomo karena dia memiliki banyak sekali isteri.

Akan tetapi, penelitian yang cermat terhadap berbagai teks (dan itu adalah satu-satunya sumber kita) memperlihatkan, bahwa teks-teks itu tidak menggambarkan Salomo sebagai manusia penuh nafsu.

Sebagai seorang raja penting atas suatu wilayah yang mencakup banyak raja kecil dari negara-negara kota (polis), Salomo pasti mengadakan banyak perjanjian.

Tentu saja, dalam banyak kasus, perjanjian-perjanjian seperti itu dikuatkan oleh perkawinan Salomo dengan anak perempuan para raja kecil itu, sebagaimana kebiasaan kuno, dan sebagaimana dalam kasus aliansi dengan Mesir (I Raj. 9:16, 17).

Tidak diragukan, bahwa perkawinan-perkawinan Salomo sebagian besar merupakan kebijaksanaan-kebijaksanaan politik.

Kesalahan Salomo sebagian besar bukan terletak pada nafsu, melainkan pada tindakannya mengizinkan para isterinya - yang dari segi politik penting - membawa masuk penyembahan kafir mereka ke dalam kota Allah (I Raj. 11:7-9).

Kita sama sekali tidak mengetahui siapa penulis bagian-bagian lain dari Amsal (III, 22:17-24:22; IV, 24:23-34; VI, 30:1-31:31).

Lihat berbagai keterangan di dalam Tafsiran.

Karenanya, kita tidak mungkin bersikap dogmatis mengenai tanggal penulisan bagian-bagian tersebut, kecuali mengatakan, bahwa kita tidak perlu menetapkan tanggal penyuntingan final kitab tersebut sesudah berdasarkan tradisi zaman Alkitab berakhir - yaitu sekitar 400 SM.

KUMPULAN-KUMPULAN DALAM KITAB AMSAL. Toy (op. cit., hlm. vii, viii), dan orang-orang lain yang mengikuti pandangannya berpendapat, bahwa munculnya kalimat, atau ayat yang sama pada banyak bagian kitab ini menunjukkan adanya penulis-penulis berbeda untuk bagian-bagian itu.

Toy mencatat lebih dari lima puluh persamaan, meskipun sebagian tidak terlalu mirip.

Dia secara kurang hati-hati mengabaikan 15:13 dan 17:22.

Sebagian besar dari persamaan ini diberi perhatian dalam bagian Tafsiran tentang pembahasan ini.

Toy tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap fakta nyata, bahwa dalam banyak hal bagian dari sebuah ayat diulang dengan variasi-variasi yang mungkin penting.

Pengulangan tersebut tidak memberikan bukti apa-apa mengenai adanya kumpulan amsal dari penulis-penulis berbeda.

Kadang-kadang pengulangan tersebut juga berada dalam bagian yang oleh Toy dianggap merupakan kumpulan yang menyatu, seperti 14:12 dan 16:25.

Di sini Toy terpaksa memberikan kesan, bahwa ada kumpulan-kumpulan tambahan.

Lebih jauh, ada pengulangan serupa pada sebuah karya dari Mesir yang dianggap ditulis oleh penulis yang sama (bdg. Tafsiran dari 22:28).

Kelihatannya pendapat Toy didasarkan pada asumsi yang keliru.

Jelas, bahwa ada beberapa kumpulan berbeda dalam Amsal, sebagaimana ditunjukkan oleh judul-judulnya; tetapi bukti-bukti internal berupa kesamaan-kesamaan ini tidak cukup untuk membantah, bahwa Salomo menulis bagian-bagian yang dinyatakan berasal dari dia.

AMSAL DAN SASTRA HIKMAT LAIN. Sebagaimana penulisan puisi pada zaman purba tidak terbatas pada bangsa Ibrani, demikian juga bentuk sastra dari Amsal bukanlah khas Ibrani.

Kita tidak perlu heran jika menemukan kumpulan-kumpulan amsal di Mesir dan Mesopotamia pada zaman purba.

Beberapa karya seperti itu patut diperhatikan, tetapi ada dua yang paling penting - Story of Ahikar dan Wisdom of Amen-em-opet, yang harus dianggap rendah dalam beberapa detail.

Salah satu yang paling tua di antara karya-karya Hikmat ini adalah Instruction of Ptah-Hotep, yang berasal dari sekitar 2450 SM di Mesir.

Ada beberapa hal dalam karya tersebut yang diduga memiliki persamaan dengan Kitab Amsal, gaya penulisannya seperti amsal dan dalam beberapa hal gagasan-gagasannya sama.

Misalnya, dalam Instruction of Ptah-Hotep ada perintah agar anak-anak taat perintah, agar rendah hati, bersikap adil, berhati-hati jika berada di meja orang yang terhormat, lebih banyak mendengarkan daripada berbicara dan sebagainya.

Jelas nasihat yang saleh seperti itu sudah ada sejak lama dan merupakan sifat lazim masyarakat Timur.

Persamaan antara tulisan-tulisan itu dengan Amsal tidak membuktikan apa-apa mengenai asal-usul kitab yang kita bicarakan ini.

Pandangan serupa berlaku untuk Instruction of Ani dan sastra Mesir mula-mula lainnya.

Beberapa karya sastra Mesopotamia patut diperhatikan.

Apa yang dikenal sebagai Ayub versi Babel, berjudul I Will Praise the Lord of Wisdom, mengingatkan kita pada Ayub dalam Alkitab kita.

Di situ diceritakan seorang laki-laki dengan penyakit hebat yang disembuhkan oleh dewa-dewa.

Ada juga Dialogue about Human Misery, yang kadang-kadang disebut Kitab pengkhotbah versi Babel.

Kesamaan kata-katanya dengan Kitab Pengkhotbah kecil sekali, tetapi di dalamnya ada beberapa petuah.

Berbagai batu tulis dari Babel yang berasal dari abad kedelapan SM atau sebelumnya, berisi juga amsal-amsal yang menasihati orang untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, tidak berkata-kata gegabah, tidak ikut dalam pertengkaran orang lain, dsb.

Lagi-lagi, karena prinsip-prinsip moral ini sangat umum, maka keberadaannya di dalam batu-batu tulis itu tidak membuktikan apa-apa mengenai asal-usul Kitab Amsal, kecuali bahwa kitab itu dengan demikian seharusnya dianggap bertentangan dengan latar belakangnya.

Sebagaimana Musa mungkin mengambil dari hukum-hukum Hammurabi, dan sebagaimana Daud menggunakan beberapa bentuk puisi Kanaan, demikian juga Salomo dan para penerusnya mempunyai kekayaan materi latar belakang untuk digunakan sebagai ilustrasi.

Tetapi, dalam semua hal ini, bahan kuno yang bersifat umum itu dibentuk lagi oleh sang penulis Ibrani, yang dengan ilham Roh Allah menulis penyataan Allah bagi umat-Nya. (Semua tulisan ini dapat dilihat secara enak dalam koleksi hasil suntingan James B. Pritchard, Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament, edisi kedua).

Yang lebih penting bagi penelaahan kita ialah Story of Ahikar, sebuah cerita dari Mesopotamia yang dibumbui banyak amsal.

Cerita tersebut telah lama dikenal, sebab ada bagian-bagiannya yang muncul pada tulisan-tulisan pengarang Kristen mula-mula.

Tetapi pada tahun 1906, sebelas lembar papirus yang memuat kisah tersebut ditemukan dalam penggalian-penggalian terhadap koloni Yahudi di Elefantin, Mesir.

Salinan ini berasal dari sekitar 400 SM.

Ahikar adalah penasihat raja Sanherib dan raja Esarhaddon di Asyur (Siria) sekitar 700 SM.

Dia mengadopsi kemenakan laki-lakinya, yang dengan tipu muslihat membujuk raja untuk mengeksekusi Ahikar.

Tetapi, sang eksekutor yang bersahabat dengan terhukum, menyembunyikan Ahikar untuk sementara, kemudian memulihkan kedudukannya ketika murka raja telah mereda.

Dua pertiga dari buku kecil ini berisi ucapan-ucapan Ahikar yang menampilkan sejumlah persamaan dengan Amsal.

W. O. E. Oesterley dalam The Book Of Proverbs (hlm. xxxvii-lii) mencatat tiga puluh tiga persamaan, yang barangkali merupakan jumlah yang agak dibesar-besarkan.

Story (op. cit. hlm. 329-336) juga memberikan perbandingan-perbandingan penting.

Sebagian besar dari persamaan-persamaan ini bersifat umum.

Misalnya, Ahikar memperingatkan orang untuk tidak memandang perempuan yang dandanannya merangsang, atau menaruh nafsu birahi terhadapnya, karena ini adalah dosa terhadap Allah (bdg. Ams. 6:25, dsb.).

Dia juga mendesak seorang ayah untuk menundukkan anak laki-lakinya ketika anak itu masih muda, jika tidak, maka dia akan memberontak ketika dia merasa lebih kuat (bdg. Ams. 19:18).

Tetapi disangsikan, bahwa ada kaitan langsung antara amsal-amsal Ahikar dengan amsal-amsal dalam Alkitab.

Lebih jauh, amsal-amsal dari Ahikar kurang memiliki nilai moral seperti Kitab Amsal.

Amsal-amsal tersebut tidak menampilkan perbedaan antara orang bijaksana dengan orang berdosa, yang menjadi ciri khas dari Amsal; sebaliknya amsal-amsal itu lebih bersifat sekular.

Meskipun demikian, Kitab Amsal kadang-kadang memakai latar belakang sekular ini untuk mengembangkan ajaran moralnya.

Sesungguhnya, sulit menentukan - jika ada ketergantungan - karya mana yang menjadi peminjam.

Story of Ahikar, kendatipun berlatar belakang Asyur, telah beredar di antara bangsa Yahudi dan di kemudian hari di antara orang-orang Kristen.

Salinan terbaik yang kita miliki adalah dari sumber Yahudi.

Amsal-amsal Ahikar sangat mungkin dipengaruhi oleh Kitab Amsal, atau oleh perbendaharaan amsal umum bangsa Yahudi (lihat Tafsiran tentang 23:14 mengenai kemungkinan Ahikar meminjam dari Amsal).

Beberapa orang menganggap kasus tersebut berbeda dengan Wisdom of Amen-em-Opet bangsa Mesir.

Kumpulan amsal yang luar biasa ini, bahkan lebih banyak memiliki kesamaan dengan kitab dalam Alkitab daripada yang dimiliki Ahikar.

Tanggal penyusunannya tidak pasti.

Papirus di atas lebih baru daripada karya ini, tetapi papirus sendiri tidak dapat diketahui tanggalnya.

F. Ll Griffith mengerjakan penerjemahan utama dari bahasa Mesir.

Oesterley melaporkan tanggal yang diberikan oleh Griffith untuk kitab tersebut ialah abad ketujuh sampai keenam SM, sedang H. O. Lange bahkan memberikan tanggal yang lebih belakangan.

Oesterley sendiri menetapkan tanggal karya tersebut adalah abad kedelapan atau sesudahnya (The Wisdom of Egypt, hlm. 9, 10).

Albright mendukung tanggal lebih awal, kira-kira 1100-1000 SM (op. cit. hlm. 6).

Jika tanggal ini diterima, gagasan apapun mengenai asal-usulnya pasti bermuara pada karya asli bangsa Mesir.

John A. Wilson (ANET, hlm. 421), dalam terjemahannya atas karya tersebut, tidak mempunyai komitmen apapun mengenai tanggal penulisan.

Sifat dari persamaan-persamaan tersebut harus diamati.

Dalam telaahnya yang tajam, Oesterley melihat, bahwa Wisdom of Amen-em-Opet sama sekali tidak berciri Mesir.

Karya ini memiliki etika yang tinggi serta konsep mulia tentang Allah - menunjuk pada semacam monoteisme.

Dia menyatakan, bahwa "yang seperti itu tidak ditemukan di manapun dalam sastra Mesir zaman pra-Kristen" (op. cit., hlm. 24).

Oesterley menemukan beberapa persamaan dengan kitab-kitab dalam Perjanjian Lama selain Amsal, misalnya Ul. 19:14; 25:13-15; 27:18; I Sam. 2:6-8; Mzm. 1; Yer. 17:6 dst.).

Tetapi ayat-ayat ini tidak terlalu penting, karena sebagian besar membicarakan tema-tema yang juga terdapat dalam Kitab Amsal, di mana terdapat banyak persamaan - Oesterly mencatat lebih dari empat puluh persamaan (The Book of Proverbs, hlm. xxxvii-liii).

Persamaan-persamaan itu terdapat dengan banyak bagian dari Amsal.

Tetapi, yang paling menonjol adalah dengan bagian 22:17-23:14.

Semuanya kecuali lima dari ayat-ayat ini memiliki persamaan dengan Amen-em-Opet.

Yang paling mencolok dari semua kitab Mesir ini dibagi menjadi tiga puluh pasal (yang cukup panjang) dan ditutup dengan nasihat untuk menaati tiga puluh pasal ini.

Bagian ini dalam Kitab Amsal, yang meluas sehingga mencakup 22:17-24:22, katanya berisi tiga puluh petuah (Oesterley, op. cit. hlm. 192).

Kata pengantar dari bagian ini dalam Amsal adalah "Bukankah sudah kusuratkan bagimu beberapa perkara yang indah" (22:20, dalam Terjemahan Lama).

Ini bisa dengan lebih benar dibaca dengan sedikit sekali vokal yang berbeda: "Tiga puluh petuah sudah kutuliskan untukmu" (dari Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari).

Harus diakui, bahwa penemuan hanya tiga puluh petuah dalam enam puluh sembilan ayat ini agak tidak terduga.

Dan tiga puluh petuah tersebut nyaris tidak sepanjang tiga puluh pasal dari kitab Mesir itu.

Toh, persamaannya menonjol.

Oesterley (The Wisdom of Egypt, hlm. 105) menunjukkan fakta yang aneh, bahwa bagian Amsal 22:17-23:12 mempunyai persamaan dengan seluruh ayat kecuali tiga ayat pada bagian-bagian yang terserak dalam karya Mesir itu.

Tetapi, bagian-bagian lain dari Amsal yang mempunyai lebih sedikit persamaan, yakni pada umumnya persamaan dengan pasal X dan pasal XXI dari Amen-em-Opet.

Dari sini dia menjelaskan dengan cukup masuk akal, bahwa penggunaan bahan pinjaman berbeda pada bagian-bagian yang berlainan dari dua kitab itu.

Tidak ada karya yang meminjam langsung dari karya lainnya.

Pada beberapa bagian, dua-duanya diambil dari sumber petuah-petuah yang sama.

Tetapi dari keunikan karya bangsa Mesir itu, Oesterley berpendapat, bahwa dua-duanya bersumber pada latar belakang hikmat dan teologi Ibrani.

Barangkali kita bisa melihat lebih jauh.

Banyak yang telah diperoleh dari bacaan: "Tiga puluh petuah sudah kutuliskan untukmu."

Jelas, bahwa tiga puluh petuah dalam bagian Amsal ini bukan disalin dari kitab bangsa Mesir yang terdiri dari tiga puluh pasal di atas.

Sebenarnya, separuh terakhir dari bagian dalam Kitab Amsal tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kitab Mesir itu.

Kata "tiga puluh" dalam Amsal mungkin mengikuti contoh "tiga puluh" pada karya bangsa Mesir, tetapi bagaimanapun juga, itu bukan dipinjam secara meniru mentah-mentah.

Sebaliknya, kita perlu melihat di sini contoh lain tentang pemakaian khusus bilangan dalam sastra Hikmat.

Contoh-contoh yang terkenal ialah keterangan-keterangan yang berbentuk klimaks "tiga hal ... bahkan, ada empat hal" yang terlalu sulit untuk dimengerti (Ams. 30:18 dst.) atau "enam perkara bahkan, tujuh perkara" (Ams. 6:16-19).

Keterangan-keterangan itu dapat dicocokkan dengan sastra Ugarit.

Baal dikatakan membenci dua persembahan, bahkan tiga (C. H. Gordon, Ugaritic Literature, hlm. 30).

Baal merebut enam puluh enam kota, bahkan tujuh puluh tujuh kota (ibid., hlm. 36).

Kemudian, tujuh puluh tujuh saudara, bahkan delapan puluh delapan yang disebutkan (ibid., hlm. 55).

Banyak contoh lain dapat diberikan.

Tampaknya dalam petuah-petuah dari Amen-em-Opet dan dalam Amsal 22:20, kita mempunyai dua contoh pemakaian tertulis dari bilangan tiga puluh, yang mungkin dapat diperbanyak jika sumber-sumber kita mengenai Hikmat bangsa Mesir dan bangsa Ibrani kuno lebih lengkap.

Mengenai perbandingan-perbandingan yang rinci dari Kitab Amsal dengan peribahasa-peribahasa Mesir, lihat tafsiran atas ayat-ayat di dalam Tafsiran.

Kita juga perlu menyebut dua kitab apokrif, Yesus bin Sirakh, kira-kira dari tahun 180 SM, dan Kebijaksanaan Salomo, yang mungkin sedikit lebih belakangan.

Yang luar biasa menarik, kitab-kitab ini dalam beberapa hal mencontoh Kitab Amsal.

Tetapi, dua-duanya berasal dari zaman belakangan, dan memperlihatkan perkembangan lebih jauh dalam personifikasi hikmat dan dalam soal-soal lain.

Materi-materinya diambil dari Kitab Amsal, bukan sebaliknya, dan karena itu kita tidak perlu banyak mengacu pada kitab-kitab tersebut untuk tujuan kita sekarang.

Tafsiran Wycliffe - Garis Besar Amsal

I. Penghargaan Salomo terhadap hikmat, yaitu takut akan Tuhan. 1:1-9:18.
A. Pendahuluan. 1:1-7
B. Perempuan bijaksana, Hikmat, lawan perempuan jahat. 1:8-9:18
II. Beberapa macam amsal satu ayat dari Salomo. 10:1-22:16
A. Amsal-amsal yang menampilkan kontras. 10:1-15:33
B. Amsal-amsal yang kebanyakan menampilkan persamaan. 16:1-22:16
III. Amsal-amsal orang Bijak, tiga puluh amsal. 22:17-24:22
A. Amsal-amsal yang memiliki persamaan dengan Hikmat bangsa Mesir. 22:17-23:12
B. Amsal-amsal yang tidak memiliki persamaan dengan hikmat bangsa Mesir. 23:13-24:22
IV. Amsal-amsal orang Bijak, Tambahan. 24:23-34
V. Amsal-amsal Salomo yang disunting oleh pegawai-pegawai Hizkia. 25:1-29:27
VI. Tambahan yang terakhir. 30:1-31:31.
A. Perkataan-perkataan Agur. 30:1-33.
B. Perkataan-perkataan Lemuel. 31:1-9.
C. Syair alfabetis tentang isteri yang cakap. 31:10-31.

Tafsiran Wycliffe Proverbs 1:1-7


A. PENDAHULUAN. 1:1-7.

Penulis dan Pokok. Beberapa penafsir menganggap bagian ini sebagai pendahuluan untuk seluruh kitab ini, tetapi karena banyak bagian lain yang juga menerangkan tentang penulis, barangkali yang ini perlu dikaitkan dengan bagian pertama saja.

1. Amsal-amsal. Bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Semit lain memakai akar dari kata ini untuk mengekspresikan perbandingan.

Sebuah kata turunan darinya dalam bahasa Akad berarti "cermin."

Dari pemakaian seperti itu, kata tersebut berkembang sehingga artinya mencakup "kata-kata sindiran" (Mzm. 69:12), dan pesan nabi (mis. Bil. 23:7, 18).

Dalam Perjanjian Lama, kata itu diterjemahkan sebagai "perumpamaan" sebanyak enam belas kali.

Dalam Kitab Amsal, kata itu dipakai terutama dalam berbagai judul (1:1,6; 10:1; 25:1) untuk menunjukkan perbandingan dan kontras yang digunakan untuk menyatakan ajaran moral kitab tersebut.

Salomo bin Daud, raja Israel. Lihat pembahasan mengenai penulisan dalam bagian Pendahuluan untuk kitab ini.

2-4. Hikmat ... didikan, dst. Di sini ada lima sinonim untuk hikmat.

Ini termasuk kebenaran dan keadilan, yang lebih merupakan kebajikan ketimbang kecakapan.

Di sini penekanannya ialah pada hikmat moral, atau perilaku yang benar.

Orang yang tak berpengalaman. Kata ini, yang dipakai sebanyak empat belas kali dalam Kitab Amsal dan empat kali di tempat lain, menunjukkan lawan dari manusia yang bermoral.

Itu bukan berarti orang bodoh, seperti lazimnya pengertian kita tentang kata tersebut, melainkan orang berdosa, seorang bajingan.

Kitab Amsal mempunyai pesan moral bagi orang fasik.

Kitab ini bukan sekadar Poor Richard's Almanac yang berisi nasihat-nasihat baik untuk orang-orang yang kurang cerdas, atau yang bertabiat pemalas.

Pendahuluan ini memperingatkan kita untuk tidak melihat kitab ini dalam arti sekular.

Kitab ini berisi prinsip-prinsip Kristen.

7. Takut akan TUHAN. Sebuah ekspresi yang umum dalam Kitab Mazmur dan di tempat lain, frasa ini dipakai sebanyak empat belas kali dalam Kitab Amsal.

Contoh-contoh pemakaiannya terdapat pada Mazmur 115:11 - "Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN," dan Yesaya 11:2,3, di mana takut akan Tuhan disebut sebagai ciri khas sang Mesias.

Takut seperti itu meliputi rasa kagum dan hormat kepada Yang Mahakuasa (Mzm. 2:11 - Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar").

Ayub 28:28 pada dasarnya merupakan sebuah definisi - "Takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi."

Amsal 8:13 mengandung maksud serupa "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan."

Permulaan pengetahuan. Bukan berarti yang "utama" atau "inti," seperti yang mungkin ditunjukkan oleh akar kata tersebut dalam bahasa Ibrani, sebab Amsal 9:10 menggunakan sebuah kata yang khusus berarti "awal" atau "permulaan."

Sebaliknya, berarti langkah pertama untuk hidup bermoral adalah hubungan kita dengan Allah.

Orang bodoh menghina hikmat. Kata "orang bodoh" muncul delapan belas kali dalam Kitab Amsal; tujuh kali di tempat lain.

Pemakaiannya pun berbeda.

Dalam Yesaya 35:8, "pandir" jelas berarti "bodoh" sebagaimana arti lazimnya dalam bahasa Inggris.

Tetapi, Kitab Amsal secara khusus memakai "orang bodoh" untuk menunjuk kepada orang berdosa.

Amsal 14:9 merupakan contoh - "orang bodoh mencemoohkan kurban tebusan."

Kalimat ini berarti, bahwa orang-orang berdosa mencemoohkan kekudusan.

Versi berbahasa Yunani, LXX, secara tepat menerjemahkan "orang bodoh" dengan orang yang tidak takut kepada Allah.

Sumber bahan: Software e-sword dan Alkitab.sabda.org.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel